Mitrapost.com – Rangkaian karnaval sound horeg yang dilaksanakan sepanjang bulan Agustus 2026 di Provinsi Jawa Timur, diduga menimbulkan sebanyak tiga korban jiwa, mulai dari kru, peserta karnaval, hingga warga yang kebetulan berada di lokasi kejadian.
Kejadian terbaru dilaporkan berada di Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, dengan korban seorang laki-laki paruh baya bernama Slamet Timbang (57), petani asal Dusun Pondok Jeruk, Desa Wringinagung, yang tewas saat tertimpa kanopi dan tembok ketika mengantas istrinya ke apotek.
Melansir dari CNN Indonesia, korban itu mengalami luka berat hingga dinyatakan tewas, diduga tertimpa tembok bangunan dan kanopi yang ambruk imbas getaran sound horeg yang sedang melintas di kawasan apotek tersebut.
“Korban pas menunggu istrinya beli obat. Tidak selang berapa saat, ada suara keras dan korban sudah tersungkur tertimpa tembok. Kondisinya meninggal di tempat,” ujar warga setempat yang menjadi saksi mata, Ulum.
Peristiwa lainnya datang dari seorang kru sound horeg asal Kabupaten Jember, SN (29), yang juga dinyatakan tewas pada Minggu (02/08/2026), setelah kepalanya terbentur gapura Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, saat truk pengangkut sound horeg yang ditumpanginya melintas.
Korban diduga tertidur di atas tumpukan perangkat sound horeg sehingga tidak menyadari tumpukan muatan truk yang melebihi batas ketinggian bagian gapura. Truk tersebut melintas sepulang dari pelaksanaan karnaval di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji.
“Karena sound-nya tinggi, saat melintasi gapura desa, korban kesampluk gapura,” jelas Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Arjasa, Ipda Mustaqim Romli.
Kemudian, korban selanjutnya adalah seorang warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Bonari (44), yang dinyatakan tewas ketika mengikuti parade sound horeg dalam rangka peringatan HUT RI ke-81, Minggu (23/08/2026).
Seorang Camat Penggaran, Didik Eko Wahyudi, mengatakan bahwa korban sebelumnya sempat menggelar pesta minuman keras, lalu bergabung dengan rombongan parade sound horeg. Setelah berjalan sekitar satu kilometer, tubuh korban oleng dan terjatuh di aspal.
Meskipun sempat dilarikan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pesanggaran, namun nyawanya tidak tertolong lantaran diduga mengalami serangan jantung. (*)

Redaksi Mitrapost.com






