Pati, Mitrapost.com – Kekeringan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, meluas akibat musim kemarau panjang. Setidaknya tercatat 45.618 jiwa dari 13.698 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya mengatakan, pada pertengahan bulan Oktober ini, jumlah wilayah yang masuk ke zona hitam atau kekeringan terparah sudah bertambah.
“Untuk yang terparah untuk saat ini sudah berkembang. Untuk kemarin itu Jakenan, jadi sekarang sudah termasuk Gabus, kemudian Jaken, kemudian Pucakwangi itu kalau di infografis kita beri warna hitam (kekeringan berat),” ujar Martinus.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pati per 14 Oktober 2026, krisis air bersih telah melanda 75 desa di 12 kecamatan. Sebanyak 7 kecamatan di antaranya masuk zona hitam, yakni Jakenan, Winong, Gabus, Pucakwangi, Jaken, Tambakromo dan Kayen.
Sementara, wilayah yang masuk zona kuning atau kekeringan ringan berada di Kecamatan Dukuhseti, Tayu, Pati, Batangan, dan Sukolilo.
BPBD Kabupaten Pati telah mengirimkan bantuan sebanyak 620 tangki atau 2.917.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak untuk menghadapi krisis air bersih. Selain BPBD Pati, PMI pun menyalurkan 358 tangki atau 1.790.000 liter air bersih, serta unsur lainnya yang turut memberikan bantuan.
Selama menghadapi krisis air bersih yang semakin berkembang, Martinus berkomitmen terus melakukan distribusi bantuan air bersih.
“Terus nanti sampai hujannya datang, selama masyarakat masih membutuhkan,” terang dia.
Martinus menyampaikan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau masih terjadi di wilayah Pantura Timur, meliputi Pati, Rembang dan Blora, dan akan berlangsung hingga pertengahan bulan November 2026.
“Perkiraan hujan kalau dari Pantura Timur termasuk Pati, Rembang, Blora itu dimungkinkan sampai dengan pertengahan November,” pungkasnya. (*)

Wartawan Mitrapost.com







