Mitrapost.com – Sebanyak tiga siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Jember, Jawa Timur, diduga menjadi korban penganiayaan terhadap mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) yang bertugas sebagai pembina kedisiplinan di asrama.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia (Menko PM RI), Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, meminta kepada para pembina SRT untuk tidak menggeneralisasi kemampuan siswa.
Menurut Cak Imin, setiap siswa khususnya di SRT selalu memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan pendekatan pendidikan dan pembinaan perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap anak.
Dalam hal ini, pihaknya menilai bahwa kemampuan siswa tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu aspek, seperti keterampilan baris-berbaris. Oleh sebab itu, Cak Imin meminta kepada pembina untuk mengenali kelebihan dan kekurangan setiap siswa selama proses pendidikan.
“Saya meminta kepada semua yang terlibat di dalam pengelolaan Sekolah Rakyat supaya mengubah cara pandang,” ujar Cak Imin usai menghadiri Penganugerahan Mandaya Awards dan Innovilleague 2026 di Plaza BP Jamsostek, Jakarta Selatan.
“Peserta didik di Sekolah Rakyat tidak bisa digeneralisasi. Baris-berbaris tidak bisa jadi ukuran. Ukurannya adalah spesifikasi. Anak memiliki titik lemah tertentu, tetapi memiliki titik kelebihan tertentu,” tambahnya, dikutip dari Kumparan. (*)

Redaksi Mitrapost.com







