Mitrapost.com – Viral video dugaan penelantaran pasien di Puskesmas Batarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar).
Kejadian berawal saat pihak Puskesmas mengatakan bahwa ruang perawatan penuh, sehingga pasien ditolak. Menurut cuplikan video itu, perekam menyoroti tiga tempat tidur yang masih tersedia, sementara pasien terlantar.
“Tingali, ieu Puskesmas Bantarujeg dengan dalih ruangan penuh, tapi masih tiga tersedia, ditolak. Ieu tingali nu geuringna masih keneh di dieu, nempikeun kanu gering dikieukeun didieu digolerkeun di sisi tingali iyeu (Ini lihat yang sakitnya masih di sini, sampai yang sakit digeletakkan di pinggir lihat ini),” ujar perekam dalam video viral.
Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka telah melakukan investigasi ke Puskesmas. Menurut hasil pemeriksaan, ruang perawatan memang penuh saat pasien itu datang. Sementara, dua dari tiga tempat tidur di Instalasi Gawat Darurat (IGD) terisi.
Adapun sisa satu tempat tidur yang kosong di Instalasi Gawat Darurat (IGD) harus dikosongkan karena dijadikan sebagai tempat tindakan jika ada pasien kecelakaan.
“Memang di sana keterisian kamarnya penuh. Di IGD ada tiga bed. Memang ada satu yang kosong, tetapi kalau nanti ada pasien kecelakaan tempat tidur ini harus dikosongkan agar bisa melaksanakan tindakan di sini,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka, Agus Suratman, dikutip Detik.
“Bed yang lainnya terisi. Tadi juga ada pasien yang dirawat, itu juga hasil menunggu. Jadi memang keterisiannya lagi penuh,” lanjut dia.
Ruang perawatan anak dan ruang pasien perempuan juga penuh saat pasien datang. Pihaknya turut meminta maaf terkait pelayanan dan fasilitas Puskesmas Batarujeg yang belum memadahi, serta menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi.
“Ruang anak juga sedang penuh. Ruang pasien perempuan penuh. Yang kemarin datang memang penuh. Mohon maaf, karena saat ini sedang penuh,” ucapnya.
Bupati Majalengka Eman Suherman juga menceritakan kronologi kejadian tersebut. Menurut informasi, pasien sempat mendapatkan pemeriksaan medis, dan ternyata suspect TBC. Pihak Puskesmas kemudian menyarankan dirujuk ke rumah sakit karena ruangan tidak memadahi.
“Pasien datang menggunakan kursi roda. Kemudian dibawa ke dalam, lalu dilakukan pemeriksaan. Dicek tensinya segala macamnya, dan ternyata potensi suspect TBC,” kata Eman, Senin (2/11/2026).
Puskesmas juga telah menyediakan ambulans, namun pasien disebut tidak bersedia menjalani rujukan karena jarak rumah sakit cukup jauh. Kesalahpahaman bermula saat pasien tidak terlihat di lokasi, sehingga petugas medis mengira pasien sudah berangkat ke rumah sakit.
“Jadi artinya SOP sudah jalan dan sudah dilayani dulu. Cuma karena di sini tidak bisa dilayani, harus dirujuk karena tadi sakit itu. Dikira oleh teman-teman sudah berangkat, ternyata di lorong. Inilah mis (miskomunikasi) yang terjadi,” lanjut dia.
Lebih lanjut, pihaknya akan mengumpulkan seluruh kepala puskesmas dan dokter pada Selasa (3/11/2026) besok guna memperkuat pembinaan. Eman mengimbau kepada tenaga kesehatan untuk tetap profesional dan berempati terhadap kondisi pasien maupun keluarga.
“Ketika orang datang ke rumah sakit atau puskesmas, segudang persoalan dia bawa. Bukan hanya mencari kesembuhan, tapi kalau musibah proses penyembuhan itu harus inap, bayangkan dia memikirkan siapa yang akan menjaga, berapa biaya semalamnya,” jelas Eman.
“Ketika datang ke kantor, kita sudah terikat oleh sistem. Layani dengan santun, ramah, dan sopan. Itu akan memberikan cepat kesembuhan bagi pasien. Saya sarankan itu,” lanjut dia. (*)

Redaksi Mitrapost.com



