Nelayan di Banyutowo Pati Keluhkan Pendangkalan Pesisir Pantai

Pati, Mitrapost.com – Nelayan di Desa Banyutowo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengeluhkan pendangkalan di pesisir wilayah tersebut. Akibatnya, kapal nelayan tradisional di Banyutowo tidak bisa menepi ke pantai.

Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina Lestari, Desa Banyutowo, Sugiono mengatakan pendangkalan pesisir laut Banyutowo terjadi sejak pertengahan bulan Oktober kemarin. Hal itu mengakibatkan, nelayan tidak dapat berangkat mencari ikan.

“Tidak bisa menepi. Sejak pertengahan bulan Oktober,” kata Sugiono kepada Mitrapost.com dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (04/11/2026).

Pihaknya turut menyampaikan solusi terkait pendangkalan di pesisir pantai, yaitu pembuatan dermaga agar nelayan-nelayan kapal tradisional bisa menepi. Menurutnya, jika hanya mengandalkan pengerukan sedimentasi, tidak akan membuahkan hasil karena ombak di pantai Banyutowo membawa lumpur.

“Solusinya dermaga. Kalau dikeruk ya percuma juga, sedimentasinya juga tinggi, kalau ombaknya bawa lumpur sehingga lumpurnya naik ke daratan,” jelas dia.

Ia menyebut, sekitar 60 sampai 70 nelayan tradisional di wilayah Desa Banyutowo tidak dapat melaut akibat pendangkalan pesisir pantai. Alhasil, rata-rata nelayan tradisional di wilayah tersebut menangkap ikan tongkol hingga lundu.

“Kalau nelayan tradisional itu ada yang ikan tongkol, ada ikan lundu jenisnya beda-beda,” ucapnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santoso, turut menjelaskan permasalahan yang dialami nelayan Banyutowo akibat sedimentasi yang cukup tinggi. Menurutnya, nelayan tidak bisa langsung membawa hasil tangkapan ikan ke pesisir pantai.

“Memang menjadi permasalahan utama di TPI banyutowo, sedimentasi yang cukup tinggi sehingga menyulitkan nelayan, sehingga membawa tangkapannya langsung ke dermaga, atau ke parkiran kapal itu,” jelas Hadi.

Pihaknya memang telah melakukan penanganan sementara berupa pengerukan sedimentasi, namun langkah tersebut belum menyelesaikan permasalahan. Pasalnya, lumpur akan kembali lagi bersama dengan ombak laut, sehingga menambah sedimentasi.

“Kami sudah melakukan penanganannya antara lain tadi pengerukan sedimentasi (penanganan sementara) kami tahu itu tidak menyelesaikan masalah karena akan kembali lagi,” katanya.

Selain itu, DKP Pati juga mengusulkan kepada DKP Provinsi Jawa Tengah untuk membuat pemecah ombak dan jembatan.

“Yang kedua untuk membuat pemecah ombak, kemudian jembatan atau jeti dan kami sudah usul ke DKP provinsi untuk kedua usulan,” terangnya.

“Karena memang biayanya cukup besar biaya pembangunan itu, karena itu solusi utama, kami tahun lalu sudah mengusulkan itu, kira menelan mungkin ya sampai Rp10 miliar lebih, itu kira-kira lebarnya ada 120 meteran tambatan kapalnya,” tandasnya. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati