oleh

Gemari Dunia Ilustrasi, Karya Debi Kini Diminati Hingga Mancanegara

Blora, Mitrapost.com Didorong akan kesukaanya menggambar semasa kecil, pemuda asal Blora, Debi Kabit kini memutuskan menjadi ilustrator yang serius.

“Berawal saat masih kecil. Saya sering coret-coret buku. Disaat itulah saya terbesit untuk menjadi seorang komikus/pembuat film kartun karena saya senang menggambar, salah satunya menggambar bentuk fantasi,” tuturnya pada Sabtu (18/7/20).

Pbb - Mitrapost.com

Banner Bphtb - Mitrapost.com

Mulai beranjak sekolah kebiasaannya masih tetap berlanjut. Hingga pada tahun 2016 ia kemudian kuliah di salah satu kampus swasta di Yogyakarta jurusan desain komunikasi visual (DKV). “Setelah memahami karakter gambar pribadi, baru terjun ke dunia ilustrasi dan menekuninya. Setelah sekian lama sharing ke temen-temen dan para senior pada tahun 2018. Baru berani membuka jasa desain/artwork. Disitulah saya memulai bisnis saya hingga sekarang.”

Baca juga: Live Painting, Seni Jadi Media Kritik dan Media Perubahan

Pada awal memulai usaha, Debi mengaku hanya menerima orderan satu produk dalam sebulan. “Kalau client lokal mulai dari 2018. Tapi dikit banget. Paling perbulan cuman 1x order kadang baru 2 bulan lagi order masuk.”

Baca Juga :   Jadi Garda Informasi Warga, Diskominfo Blora Kuatkan Peran KIM

Seiring berjalannya waktu, kini Debi telah menelurkan beragam produk mulai dari t-shirt, tattoo sampai cover buku dengan brand Doturnal. Namun jenis produk yang dihasilkan tetap saja bisa berubah sesuai permintaan kliennya. “Tapi yang jelas gambar saya bertema horror atau brutal.”

Dalam karyanya Debi sendiri menggunakan teknik konvensional, yaitu dengan teknik dotting atau pointilism secara manual. “Itu sendiri merupakan sebuah teknik menggambar dengan cara membuat titik sebanyak-sebanyaknya mengikuti pola/sketsa yang sudah dibuat terlebih dahulu dengan menggunakan pen khusus menggambar.”

Setelah tahap manual selesai, barulah beralih ke tahap digital untuk mempertajam gambarnya.

Baca juga: Soesilo Toer, Penulis dan Pemulung Bahagia

Ia mengaku kebanyakan karya-karya yang dihasilkan merupakan pesanan dari klien. Ia berpendapat karena banyak client-nya yang ingin mewujudkan imajinasinya.  Namun tidak sedikit yang beli karya yang sudah jadi juga.

Baca Juga :   Sempat Tutup 1 Bulan, Pelayanan Rekam Data KTP-el di Blora Kembali Dibuka

Untuk menjual karyanya Debi sering melalui platform online, salah satunya website yang menyediakan platform yang dapat digunakan berinteraksi atara penjual dan pembeli. “Terutama dua sisi bagi orang untuk membeli dan menjual berbagai layanan digital. Selain online saya biasanya mempromosikannya dalam bentuk acara pameran. Dari pameran yang diadakan kampus maupun komunitas.”

Tidak hanya di dalam negeri, karya Debi juga dinikmati oleh beberapa orang dari mancanegara. Mulai dari Amerika sampai Jerman.

“Selain Amerika yo ono sih. Tapi negara lainnya kayak Jerman 2 order, Canada 1, Norwegia 5, Itali 1, Yunani 1, trus paling dekat Vietnam 2.”

Baca juga: Tersindir Karena Quote di Medsos, Sri Antini Mendedikasikan diri Sebagai Filantropis

Ia mematok 10 dolar atau sekitar 150 ribu per karya.  “Per artwork dimulai dari 10$, karena fokus pada pasar internasional. Untuk client lokal, pembayaran sendiri bisa langsung melalui rekening, ”

Baca Juga :   Isu Kesehatan Diangkat Jadi Tema Peringatan Hari Santri Nasional 2020

Meskipun begitu hari ini usahanya terkendala dalam pembayaran karena pandemi.  “Saat pandemi seperti ini, order yang masuk masih stabil. Hanya saja disaat pencairan dana terganggu, karena fee yang masuk tidak bisa langsung ke rekening pribadi, melainkan masih tersimpan/terproses diPayp*l. Dan itu harus menunggu kurang lebih 2 mingguan. Dan itulah efek pandemi yang dirasakan oleh seorang buruh gambar.” (*)

Baca juga: 

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur : Ulfa PS

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Diskominfo Pati Gelar Pertunjukan Ketoprak Virtual Dalam Upaya Tekan Peredaran Rokok Ilegal

Berita Terkait