oleh

DPU Kota Semarang Terus Pantau Penurunan Permukaan Tanah

Semarang, Mitrapost.com – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) kota Semarang terus memantau penurunan permukaan tanah.

Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kondisi permukaan tanah secara realtime. Kemudian data ini akan dikirimkan ke Bappeda kota Semarang untuk dikaji lebih lanjut.

Demikian disampaikan Kepala DPU Kota Semarang Sih Rianung melalui Kepala UPTD Pengelola Pompa Banjir Wilayah Tengah II Semarang, Yoyok Wiratmoko. Yoyok mengatakan dalam Stasiun Pompa Drainase terdapat empat buah alat ukur penurunan tanah.

Alat tersebut berupa besi yang masuk ke dalam lubang yang jika terjadi penurunan tanah maka besi tersebut akan ikut bergerak turun. “Ini adalah untuk alat ukur penurunan tanah di lokasi kami. Dibuat 2012 dimana tahun 2021 ada di (tanda) paling atas. Ini sampai Juni 2021 penurunan sekitar 1 meter, setelah hitung setiap bulan rata-rata 0,5 cm,” katanya.

Baca Juga :   Hindari Penyebaran Covid, Tahanan Lapas Lakukan Sidang Online

Yoyok mengatakan jika gedung utama dirumah pompa tidak akan mengalami penurunan karena pondasinya ditanam pada bagian tanah yang keras. “Kedalaman tiang pancang bangunan rumah pompa, kantor dan fasilitas penting lainnya sekitar 35 meter,” ujar Yoyok.

Dengan kedalaman tersebut dinilai cukup aman dari penurunan muka tanah.

Tentu saja dengan kedalaman ini cukup aman dari penurunan muka tanah. “Sehingga saat muka tanah turun perlahan, bangunan disekitar gedung utama bahkan jalan didepan gedung terlihat mengalami penurunan,” katanya.

“Ini dulunya sejajar dengan paving-paving di sini, sekarang ambles. Ya amblesnya ini bertahap tidak langsung, dan penurunan tanahnya terbilang cukup tinggi,” bebernya. Penurunan muka tanah terlihat jelas sejumlah lokasi khususnya Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara.

Baca Juga :   Lapas Semarang Ikuti Senam Pernapasan Bio Energy Power Secara Virtual

Berdasarkan pantauan di lapangan, terlihat banyak rumah yang dibuat lebih tinggi dari jalan. Namun ada juga rumah-rumah yang hanya lantai rumahnya saja yang ditinggikan sehingga rumah terlihat pendek dari jalan didepannya.

Salah satunya adalah rumah milik ketua RW 15, Slamet Riyanto yang terlihat pendek. Bahkan lantai dua bangunan rumah milik Slamet sudah hampir sama dengan tinggi jalan didepannya.  Pihaknya pun mengakui bahwa ada penurunan tanah di wilayahnya. “Yang saya rasakan wilayah kita memang ada penurunan tanah. Ini kan rumah mertua, dulu ketinggian (lantai pertama) hampir 2 meter,” kata istri Slamet, Sri Wahyuni.

Karena hampir setiap hari mengalami rob atau terkena air pasang, rumah Slamet kemudian harus menyesuaikan kondisi seperti harus memasang tanggul didepan rumah agar air rob tidak masuk kedalam rumah, hingga memindahkan meteran listrik dan saklar ketempat yang lebih tinggi. (*)

Baca Juga :   Kapolda Jateng : Kami Fokus Pencegahan Covid-19 Jelang Pilkada

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Googlenews. silahkan Klik Tautan https://bit.ly/googlenewsmitrapost dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Video Viral