oleh

Video : Meski Harga Naik, Petani Masih Enggan Produksi Garam

Rembang, Mitrapost.com – Naiknya harga beli garam juga dialami oleh kalangan petani garam rakyat di Kabupaten Rembang. Terpantau saat ini harga garam kualitas pertama (K1) sudah mencapai harga Rp600 perkilogram.

Kendati demikian, tak banyak petani yang memproduksi garam, disebabkan karena curah hujan yang sangat tinggi.

Pbb - Mitrapost.com

Banner Bphtb - Mitrapost.com

Tingginya intensitas hujan di Rembang, diduga disebabkan akibat dampak fenomena cuaca La Nina. Fenomena ini mendorong pembentukan awan yang berlebih di daerah yang dilaluinya, sehingga meningkan intensitas hujan.

Shanti Mahardika, Penyuluh Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang mengatakan, naiknya harga garam disebabkan karena stok garam konsumsi di Rembang semakin sedikit. Kondisi ini membuat pedagang mengambil kesempatan untuk menaikkan harga garam tersebut.

Baca Juga :   Video : Dana ZIS di Rembang Mulai Didistribusikan

“Saya nggak tahu pastinya harga naik dikarenakan apa. biasanya itu harga yang menentukan adalah pasar. Kalo permintaan bnyak barang sulit didapat biasanya harga naik,” kata Santi kepada Mitrapost.com saat diwawancara.

Diketahui harga garam Rembang pernah anjlok hingga harga terendah Rp300 dan mulai stabil di bulan September di angka Rp550.

Meski saat ini harganya sudah di angka Rp600, nampaknya para petani garam di Rembang masih menahan diri untuk memproduksi garam, mengingat risiko gagal panen yang akan dihadapi. Para petani lebih memilih beralih bertani ke komoditas lain atau bekerja di sektor yang berbeda.

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Diskominfo Pati Gelar Pertunjukan Ketoprak Virtual Dalam Upaya Tekan Peredaran Rokok Ilegal

Komentar

Berita Terkait