Rembang, Mitrapost.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang akan menggelar Festival Desa Wisata tahun 2022.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinbudpar Kabupaten Rembang, Muttaqin menyampaikan Festival Desa Wisata akan berlangsung selama dua hari berturut-turut. Berlangsung pada tanggal 15 hingga 16 Oktober 2022 di Kompleks Pendopo Museum RA. Kartini.
Festival Desa Wisata nanti terdiri dari 30 stand yang diikuti 20 Desa Wisata. Dari Pakudjembara 5 Kabupaten Pati, Kudus, Demak, Jepara, Blora dan 5 stand dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan UMKM.
Selain sebagai ajang silaturahmi, acara ini juga dimaksudkan untuk mewadahi Desa Wisata untuk mempertontonkan atau mempromosikan produk atau hasil karya antar wilayah.
“Selain sebagai ajang silaturahmi, juga mewadahi Desa Wisata untuk mempertontonkan atau mempromosikan produk atau hasil karyanya di wilayah Pakudjembara (Pati, Kudus, Jepara, Rembang, Blora, Demak),” kata Muttaqin saat ditemui Mitrapost.com, Senin (10/10/2022).
Dia menjelaskan Festival Desa Wisata terbuka untuk umum dari tanggal 15 Oktober dan akan dimeriahkan beberapa rangkaian acara hingga pertunjukan.
Lebih lanjut, pertunjukan yang akan hadir di hari Sabtu depan dimulai pukul 09.00 WIB yaitu dari kegiatan Parade Pertunjukkan seni Desa Wisata Kabupaten Rembang, tari tradisional, rebana, Barongan, musik, dan lain sebagainya. Sedangkan pada tanggal 16 Oktober tepatnya hari Minggu dimulai pukul 08.00 sampai 22.00 WIB.
Festival Desa Wisata pada hari Minggu akan mempersembahkan pertunjukan diantaranya: tourism speech contest, fashion show and tari tradisional, expo produk desa wisata and expo UMKM, sarasehan Desa Wisata bersama Kemenparekraf RI and Pemprov Jateng, warastra musik dan penghargaan Desa Wisata.
Ia menambahkan dalam penghargaan Desa Wisata nanti yang memenuhi kriteria dari gelar produk stand (pameran produk), apresiasi seni, hingga profil pengelolaan desa wisata.
“Besok baru kita temu teknis Juri Mbak. kriterianya disepakati dari gelar produk stand, apresiasi seni, profil pengelolaan desa wisata,” pungkasnya. (*)






