Pati, Mitrapost.com – Pria muda asal Kecamatan Juwana bernama Marnoto (23), pembudidaya maggot enggan menerjunkan budidayanya ke dunia bisnis.
Hal ini terjadi lantaran produksi pada budidaya maggot untuk pakan ternak dan pupuk tanaman kurang. Terlebih sekarang bank sampah atau limbah Sampah Organik Dapur (SOD) juga berkurang.
“Mungkin untuk kendala saat ini ya budidaya maggot yang kurang, tapi pinginnya ya gitu mba. Cuma maggotnya untuk pakan peliharaan dirumah masih kurang, jadi belum ke ranah market,” ucap Marnoto kepada Mitrapost.com.
Selanjutnya, hal ini akan menjadikan pihaknya untuk lebih terus memutar otak guna mengatasi kendala tersebut. Syukur-syukur langsung terjunkan ke dunia bisnis agar bisa mengais rezeki dari budidayanya selama 10 bulan barunya.
“Dan sampah organik yang identik dengan ikan atau daging itu tadi, terus seperti buah-buahan sayur kan itu sekarang berkurang. Dibuangnya ke sembarang tempat sih, jadi mau gak mau harus mikir,” lanjutnya.
“Syukur-syukur kan langsung bisa melecit kedunia bisnis ya, dapet uang dari situ dapet pelanggan hehe ya intinya seperti itu sih. Jadi 10 bulan barunya ini bisa berkembang jauh,” tambahnya.
Dengan demikian, pihaknya mengimbau, kepada masyarakat Kabupaten Pati khususnya di sekitar rumah agar bisa mengumpulkan sisa makanan yang sudah tidak layak untuk dijadikan yang lebih bermanfaat utamanya ternak hewan maupun pupuk tanaman.
Sementara itu, pihaknya menyinggung terkait kendala atau kesulitan lain yang ia alami saat budidaya maggot.
“Dan untuk kesulitan lagi pada saat ini, sampah organik yang fermentasi tersebut kan identik sampah basah dengan kandungan air yang cukup banyak. Jadi lumayan susah buat mengolahnya,” singgungnya.
Akan tetapi, Marnoto menangani hal tersebut yakni dengan cara sampah fermentasi sebelum diberikan ke maggot BSF terlebih dahulu, ia tiriskan air dengan menggunakan tong komposter agar air lindinya bisa terpisah dengan sampah padatnya. (*)






