Pati, Mitrapost.com – Hasil panen jagung di wilayah Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati tahun ini mengalami penurunan. Hal itu diungkapkan oleh Bambang Sutiknyo, salah satu petani jagung asal Desa Wukirsari.
Dari lahan seluas 1,25 hektare yang digarapnya, Bambang hanya mampu menghasilkan sekitar 5 ton jagung. Angka itu mengalami penurunan jika dibanding panen tahun sebelumnya yang mencapai 5,5 ton, meskipun hanya di lahan seluas 1 hektare.
“Yang seperempat hektare tidak begitu berhasil. Tahun lalu 1 hektare dapat 5,5 ton, sekarang 1,25 hektare malah cuma 5 ton,” ungkapnya saat dihubungi melalui pesan singkat.
Ia menyebut, tantangan terbesar pada musim tanam kali ini adalah cuaca ekstrem dan serangan hama, terutama tikus. Hujan yang turun seminggu sebelum panen membuat puluhan karung jagung yang sudah dipetik terkena jamur.
“Kemarin ada 29 karung yang kondisinya buruk karena kehujanan di sawah. Saya angkut pulang, tapi kualitasnya menurun,” jelasnya.
Bambang menjelaskan bahwa lahan yang ia kelola merupakan lahan tadah hujan, sehingga sangat bergantung pada cuaca. Meski sempat diuntungkan dengan tanah yang tidak kekeringan saat tanam, kondisi justru berubah saat menjelang panen.
“Kalau pengairan memang hanya dari hujan, tidak ada irigasi. Pemupukan kami lakukan dua kali selama musim tanam,” tambahnya.
Tak hanya cuaca, serangan tikus juga memperparah kerugian petani. Tikus-tikus tersebut menyerang batang dan tongkol jagung, terutama saat tanaman mulai tua. Serangan itu disebutnya berkaitan dengan kondisi kelembapan tanah.
“Batang dimakan, klobot juga digerogoti. Kadang kalau sudah mulai kering dan kemrikit (keriting), jagung itu malah jadi manis dan bisa dibuat bakwan,” katanya sambil tersenyum tipis.
Meski hasil panen tidak memuaskan, Bambang dan petani lainnya tetap bersiap menyambut musim tanam berikutnya. Saat ini mereka mulai membersihkan lahan sambil berharap musim tanam ke depan bisa memberikan hasil yang lebih baik. (*)

Wartawan Mitrapost.com






