Lama tanpa UN, Kepala BSKAP Kemendikdasmen Sebut Mental Siswa Jadi Tidak Terlatih

Mitrapost.com – Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (BSKAP Kemendikdasmen), Toni Toharudin menilai jika mental anak muda Indonesia saat ini sudah tidak lagi terlatih untuk menjalani ujian berskala nasional.

Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia tidak lagi mengadakan Ujian Nasional (UN). Menurut Toni, hal tersebut berpengaruh besar terhadap ujian yang sedang dihadapi oleh para siswa di awal November 2025, yaitu Tes Kemampuan Akademik (TKA).

“Setelah beberapa tahun kita tanpa asesmen berskala nasional, mungkin bisa dilihat banyak siswa yang tidak lagi terlatih secara mental menghadapi ujian ini,” jelas Toni dikutip dari Kompas, Rabu (03/12/2025).

“Sebetulnya mereka (siswa) cerdas, tapi belum semua terbiasa bertanding dengan jujur dalam tekanan yang nyata,” tambahnya.

Sepanjang pelaksanaan TKA, Toni menilai jika mental siswa tidak terlatih untuk berlaku jujur dalam menghadapi tekanan yang sedang terjadi di dunia nyata.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah melihat hasil dari penyusunan soal-soalnya yang sedemikian rupa telah diukur dengan aspek knowing, applying dan reasoning, berdasar pada rancangan secara berjenjang dari tingkat pusat dan daerah.

Bahkan, pihaknya juga mengaku jika penyusunan soal-soal diupayakan agar dapat menjadi tolok ukur kemampuan penalaran berpikir antara konsep pembelajaran dengan kehidupan nyata.

“Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran menghasilkan pemahaman yang bermakna dan fungsional, bukan sekadar penguasaan prosedural,” katanya.

Salah satu contoh yang diambil dalam mengukur kemampuan penalaran siswa Indonesia, di antaranya pada materi uji matematika, Toni menyebut jika mereka belum cukup mampu memahami pertanyaan dengan baik, seperti pada soal cerita yang tidak langsung ke poin pertanyaan.

“Pembelajaran matematika misalnya, tantangan murid kita sering kali bukan pada kompleksitas materi, melainkan pada kemampuan mentransformasikan masalah kompleksitas materi,” ucapnya.

Maka dari itu, Toni menambahkan bahwa pemerintah telah membuat kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) guna memahamkan siswa terkait pembelajaran untuk dapat diterapkan di kehidupan nyata.

“Sehingga peserta didik tidak hanya memahami apa yang dipelajari, tetapi juga mampu memanfaatkan pengetahuan tersebut secara efektif untuk menjawab tantangan dunia nyata,” pungkasnya. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati