Panic Selling Sebabkan 11 Sektor di Zona Merah, 5 Saham ini Masih Berpeluang Aman untuk Trading

Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam sebesar 7,35% ke level 8.320 pada Rabu, 28 Januari 2026, di tengah suasana pasar yang masih berisiko tinggi dengan sentimen eksternal yang dominan.

Pelemahan yang ditandai dengan zona merah ini tercatat setelah adanya aksi jual besar-besaran yang dipicu oleh pengumuman dari MSCI, terkait dengan penilaian dan pembekuan rebalancing terhadap saham Indonesia.

Hal tersebut mampu memicu panic selling bahkan trading halt karena turunnya indeks lebih dari 8% di sesi siang. Akibatnya, sebanyak 11 sektor saham berada di zona merah dengan tekanan jual asing yang intensif tercatat di beberapa saham utama.

Oleh sebab itu, outlook untuk Jumat, 30 Januari 2026 menunjukkan peluang pasar yang menampilkan adanya reaksi teknikal dari level oversold, meski tetap harus berhati-hati terhadap sinyal fundamental yang belum sepenuhnya pulih.

BBCA – PT Bank Central Asia, Tbk

Dalam fase pasar yang stres dan berisiko tinggi seperti saat ini lantaran perdagangan BBCA yang ditutup di angka Rp7.025, saham bank besar dengan fundamental kuat cenderung menjadi pilihan untuk risk preservation sekaligus reaksi teknikal.

Dikarenakan BBCA sering menunjukkan support yang relatif kuat setelah tekanan tajam di indeks karena likuiditasnya yang tinggi dan basis investor yang luas, maka rentang target mencerminkan potensi yang realistis sebesar Rp7.067 — Rp7.110.

TLKM – PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Melansir dari IDX Channel, sektor telekomunikasi seperti TLKM yang menutup perdagangannya pada Rp3.470 ini umumnya memiliki fundamental defensif dan pendapatan yang stabil, sehingga cenderung kurang sensitif terhadap volatiltas indeks drastis.

Setelah tekanan pasar pada Rabu, TLKM dapat menarik perhatian pelaku pasar sebagai aset flight to quality untuk harian, terutama saat IHSG berada di posisi oversold. Hal ini mampu memunculkan rentang target hingga sebesar Rp3.500 — Rp3.520

UNVR – PT Unilever Indonesia Tbk

Penurunan tajam IHSG pada Rabu yang juga terlihat pada penutupan UNVR di fase Rp1.980 ini kemungkinan telah menekan sektor barang konsumen primer secara tidak proporsional, sehingga ada ruang teknikal rebound yang logis dalam konteks perbaikan pasar jangka pendek.

Dalam situasi pasar risk-off, saham dengan sektor ini sering dijadikan sebagai pilihan investor yang akan mencari stabilitas pendapatan, hingga berani memasang rentang target pada level kisaran Rp1.993 — Rp2.001.

ASII – PT Astra International Tbk (ASII)

Saham industri besar seperti ASII yang memiliki eksposur luas terhadap konsumsi domestik dan siklus ekonomi ini menutup perdagangannya di fase Rp6.175.

Pasca koreksi tajam, ASII dapat menunjukkan retracement yang jauh lebih besar dibandingkan dengan saham defensif, lantaran adanya faktor rotasi modal internal pasca tekanan jual. Rentang target sebesar Rp6.230 — Rp6.300 ini mencerminkan volatilitas saham dengan likuiditas tinggi.

ANTM – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Sektor komoditas/logam seperti ANTM yang menutup perdagangannya pada Rp4.420 sering bereaksi positif terhadap recovery technical ketika pemulihan pasar dari tekanan tajam. Sementara, rentang target dari saham ini berada di antara Rp4.470 — Rp4.520.

ANTM dipilih karena sensitif terhadap sentimen makro komoditas global sekaligus menunjukkan likuiditas tinggi di pasar domestik, sehingga potensi mean reversion pada harian menjadi lebih mungkin jika terjadi pembalikan sentimen jangka pendek. (*)

Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati