Mitrapost.com – Sebanyak tiga anak laki-laki diduga menjadi korban pencabulan. Mereka diantaranya berinsial A (11), I (5), dan satu anak lainnya yang merupakan tetangga dua anak tersebut.
Kasus ini terjadi di wilayah Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Dugaan pencabulan terungkap berawal dari orang tua A dan I berinisial H yang mendapatkan laporan dari pihak sekolah pada Kamis (5/2/2026).
Sang guru melihat adanya bekas kemerahan di leher salah satu siswa. Sehingga sang siswa pun dipanggil dan dimintai keterangan.
“Teman anak saya ini korban juga. Sempat dipanggil sama guru, kan. Ditanyalah sama guru, kenapa lehernya merah. Dia bilang, dicium sama anak saya,” ujar H dilansir dari Kompas.
Dari keterangan siswa itu, A akhirnya ikut dipanggil dan dimintai keterangan. A mengaku disuruh oleh remaja berinisial E (18) yang diketahui adalah sepupu A dan I.
“Mereka jawab sejujurnya-jujurnya. Dia bilang “Ada yang nyuruh’. Siapa yang nyuruh namanya? ‘E’,” kata H.
Berdasarkan cerita A yang diungkapkan H, E menyuruh tiga korban untuk melakukan tidak pantas sebelum E juga melakukan hal serupa.
Sang guru akhirnya melaporkan cerita itu kepada orang tua A dan I yaitu H yang bekerja sebagai asistem rumah tangga (ART).
H mengaku sang anak memang sempat mengeluh sakit. Namun tak disangka jika anaknya mengalami dugaan pencabulan. Diduga, aksi cabul itu dilakukan empat kali di waktu berbeda di kontrakan tempat tinggal mereka.
“Awalnya anak saya sempat mengeluh sakit. Saya pikir sakit biasa, enggak kepikiran ke situ,” ujar H.
H yang tak mengetahui apapun sempat mengira anaknya mengalami gangguan pencernaan. Namun karena keluhan sakit itu dialami I berulang, ia mulai curiga. Hingga akhirnya I bercerita tentang E yang diduga mencabulinya.
“Pas hari Sabtu itu kejadiannya di rumah saya, di kontrakan saya. Jadi anak-anak banyak di kontrakan saya itu, dikasih kopi yang udah dicampur obat. Anak-anak sebelum dicabuli itu ya dikasih minum obat sama kopi, gitu,” jelasnya.
I juga mendapatkan ancaman dari E agar tak menceritakan kejadian itu ke siapapun.
“Dia takut diancam itu. Mau ditonjok, katanya,” imbuh dia.
Akibat kejadian itu, anak bungsu H berinisial M juga ikut terdampak secara psikologis karena ada di lokasi kejadian.
H juga sempat mendatangi keluarga E karena kaget dengan kejadian tersebut.
“Saya kan malam Selasa (Senin, 9 Februari 2026) itu langsung berdebat sama keluarga. Malam Selasa itu. Saya ngamuk itu di situ. Ngamuk dulu saya, baru ke polres,” jelasnya.
Karena tak ada titik temu, kejadian itu lantas dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan pada Selasa (10/2/2026).
“Yang melaporkan tetangga saya, orangtua anak yang juga jadi korban,” kata H. (*)

Redaksi Mitrapost.com






