Mitrapost.com – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), dituding membayar sejumlah pihak untuk memunculkan dugaan ijazah palsu Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi). Tudingan tersebut mencuat dari pernyataan Rismon Sianipar baru-baru ini.
Terkait hal itu, JK membantah dan melaporkan tudingan tersebut ke Bareskrim Polri. Saat konferensi pers di kediamannya pada Minggu (5/4/2025), pihaknya dengan tegas menyatakan tidak terlibat dalam tindakan yang dilakukan oleh Roy Suryo Cs terkait kasus ijazah palsu Jokowi.
“Saya katakan itu pasti dan yakin tidak benar,” kata JK, dikutip CNN Indonesia.
Sebelumnya, Rismon mengatakan bahwa dia menyaksikan langsung penyerahan uang sebesar Rp5 miliar dari JK kepada Roy Suryo Cs.
Jusuf Kalla menjelaskan bahwa pertemuannya dengan sejumlah akademisi dan profesional saat Ramadadan lalu dilakukan untuk berdiskusi mengenai kondisi dan situasi Indonesia saat ini, bukan membahas ijazah palsu Jokowi.
Selain itu, pertemuan yang dilakukan dilakukan secara terbuka. Para tamunya tersebut juga hadir atas kemauan mereka sendiri.
“Itu kan terbuka kan pembicaraan itu, terbuka sama sekali. Itu hanya saran untuk kebijakan dan itu untuk Bapak Presiden (Prabowo). Ya, Bapak Presiden (Prabowo),” tuturnya.
Sementara itu, pengacara JK, Abdul Haji Talaohu, mengatakan bahwa pelaporan dugaan pencemaran nama baik ke Bareskrim Polri dilakukan pada hari ini, Senin (6/4/2026). Laporan tidak hanya ditujukan kepada Rismon, namun juga beberapa konten kreator YouTube.
“Tidak hanya untuk saudara Rismon, tapi ada beberapa juga yang turut akan kami laporkan,” ujarnya.
Beberapa akun YouTube itu di antaranya Ruang Konsensus, Musik Ciamis, Mosato TV, dan YouTuber Nusantara. Akun-akun tersebut dinilai mencemarkan nama baik, serta menyebarkan informasi hoaks dan berita bohong.
“Ada kalimat yang menuduh Pak JK pecundang begitu yang kalau kita tarik, sehingga gerakan beliau mengarah kepada inkonstitusional. Inikan berita hoaks, berita bohong yang perlu juga diuji,” jelasnya.
“Ada kalimat dia yang sangat fatal menurut kami karena ada pernyataan ‘Indikasi kemunafikan, puji Prabowo tapi mau makar’. Inikan pertanyaan yang sudah telak,” tuturnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






