Mitrapost.com – Seiring dengan adanya percepatan agenda kemandirian energi nasional, Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto akan melakukan penargetan terhadap pemberhentian impor bahan bakar minyak (BBM) dalam kurun waktu 2-3 tahun ke depan.
“Mungkin dalam dua atau tiga tahun ke depan, kita tidak perlu mengimpor bahan bakar sama sekali,” jelas Presiden Prabowo dalam peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial listrik di Magelang, Jawa Tengah, dikutip dari IDN Financial.
Dalam hal ini, pemberhentian impor BBM dilakukan oleh Pemerintah Pusat dengan mengandalkan program elektrifikasi 100 gigawatt yang ditargetkan rampung dalam dua tahun.
Program tersebut nantinya akan mencakup terkait pemberhentian terhadap 13 pembangkit listrik tenaga diesel milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) yang selama ini telah menyerap konsumsi bahan bakar dalam jumlah yang besar.
Nantinya, pemberhentian operasional pembangkit tersebut diperkirakan mampu menghemat hingga sebanyak 200.000 barel solar per hari. Ketika impor BBM Indonesia saat ini berada dalam kisaran 1 juta barel per hari, maka langkah tersebut berpotensi menekan ketergantungan hingga 20 persen.
Selain melalui elektrifikasi, Pemerintah Pusat juga menginisiasi pemberhentian impor BBM dengan melakukan percepatan terhadap pengadopsian kendaraan listrik dan pengembangan energi terbarukan, termasuk pengolahan kelapa sawit dan minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan.
“Kita akan mandiri, kita akan kuat, kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” katanya, dikutip Jumat (10/04/2026).
Perlu diketahui, peresmian fasilitas kendaraan listrik yang ada di Magelang itu menjadi salah satu bagian dari strategi hilirisasi dan industrialisasi teknologi domestik. Dalam targetnya, Pemerintah Pusat memberi target kapasitas produksi mencapai 10.000 unit bus per tahun dan meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 80 persen. (*)

Redaksi Mitrapost.com


