Mitrapost.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memastikan bahwa wilayahnya tidak akan mengalami adanya penimbunan plastik, meski tengah terjadi kenaikan harga bahan baku akibat fenomena geopolitik Timur Tengah.
Dalam hal ini, Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi terus melakukan pendorongan terhadap penggunaan bioplastik yang dijadikan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Kenaikan harga plastik itu disebabkan dari hilirnya dulu, yaitu terganggu pasokan secara global akibat ketegangan politik di Selat Hormuz, yang berdampak pada naiknya harga naphta sebagai bahan baku plastik,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng, July Emmylia.
Berdasar pada laman resmi Pemprov Jateng, Emmy mengatakan bahwa bahan baku naphta tengah mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yaitu dari yang semula berada dalam kisaran 600 dolar per ton menjadi 900 dolar per ton.
Otomatisnya, kenaikan tersebut dapat memicu lonjakan harga plastik yang memunculkan dampak pada pelaku usaha, utamanya di sektor makanan dan minuman. Hal tersebut lantaran plastik yang digunakan sebagai kemasan primer.
“Tekanan yang paling berat itu adalah di IKM (Industri Kecil dan Menengah) maupun UKM (Usaha Kecil dan Menengah) sektor pangan, karena penggunaan plastik sangat intens sebagai kemasan utama. Sektor lain tetap terdampak namun tidak sebesar industri makanan dan minuman,” katanya.
Oleh sebab itu, Pemprov Jateng mengusulkan dua langkah pengantisipasian, yaitu dalam jangka pendek serta menengah dan panjang.
Dalam jangka pendek, Pemprov Jateng bersama kepolisian memonitoring pengawasan untuk mencegah penimbunan plastik oleh oknum tertentu, mengkampanyekan pengurangan plastik sekali pakai melalui penggunaan tumbler serta tas belanja reusable.
Untuk jangka menengah dan panjang, Pemprov Jateng mendorong penggunaan bioplastic, seperti bahan baku pati singkong. Hal tersebut dilakukan meski harganya mahal dibandingkan dengan plastik berbasis petrokimia. (*)

Redaksi Mitrapost.com



