Mitrapost.com – Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN RI) memberi peringatan kepada masyarakat terkait potensi kembalinya wabah pes atau infeksi yang ditularkan melalui gigitan pinjal dari hewan pengerat (tikus).
Melansir dari Antaranews, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan terkait adanya fenomena silent period atau terdeteksinya kemunculan kembali suatu penyakit, meski tidak ditemukan kasus pada manusia dalam beberapa tahun terakhir.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” jelas Ristiyanto dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Selasa (14/04/2026).
Dalam hal ini, pihaknya menduga jika wabah pes masih berada dalam fase tersebut, akibat dari adanya temuan bakteri penyebab serta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Menurut Ristiyanto, di antara perubahan lingkungan yang menjadi faktor meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit tersebut, meliputi deforestasi, alih fungsi lahan, hingga pertumbuhan penduduk yang mengganggu keseimbangan ekosistem.
Sejumlah bentuk perubahan lingkungan tersebut menyebabkan habitat tikus menjadi semakin dekat dengan permukiman manusia hingga meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri.
Selain itu, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat juga menyebut terkait adanya perubahan iklim yang turut berkontribusi pada peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia, menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” kata Choirul. (*)

Redaksi Mitrapost.com





