Mitrapost.com – Penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu, 20 Mei 2026, berakhir melemah di zona merah sebesar 0,82% atau 52,18 poin ke level 6.318,50, melanjutkan tekanan yang sudah terjadi sejak awal pekan.
Untuk perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, IHSG diperkirakan masih bergerak volatil, tetapi peluang technical rebound jangka pendek mulai terbuka pada sejumlah saham yang mengalami koreksi berlebihan namun tetap memiliki fundamental dan likuiditas kuat.
BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Setelah mengalami tekanan bersama sektor finansial, BBRI mulai menarik untuk dicermati karena valuasi dan likuiditasnya kembali kompetitif dalam fase koreksi pasar, hingga menyebabkan penutupan perdagangannya di angka Rp3.040.
Dalam kondisi pasar yang mulai mencari keseimbangan, saham perbankan besar seperti BBRI biasanya menjadi salah satu tujuan awal re-akumulasi. Oleh karena itu, saham ini diproyeksikan meningkat pada fase Rp3.131 — Rp3.192.
ADRO – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
Di tengah tekanan pasar yang masih tinggi, saham berbasis sumber daya relatif lebih defensif karena ditopang stabilitas sektor energi dan arus kas bisnis yang kuat, hingga menyebabkan penutupan perdagangannya di angka Rp2.230.
Selain itu, ADRO juga masih mendapat perhatian karena transformasi model bisnisnya yang membuatnya tidak sepenuhnya bergantung pada siklus batubara tradisional. Oleh karena itu, saham ini diproyeksikan meningkat pada fase Rp2.274 — Rp2.341.
ANTM – PT Aneka Tambang Tbk
ANTM menjadi salah satu saham yang sensitif terhadap perubahan sentimen pasar dan pergerakan komoditas global, sehingga menyebabkan penutupan perdagangannya di angka Rp3.100.
Setelah mengalami tekanan yang cukup dalam, peluang rebound terbuka karena sektor logam masih memiliki narasi jangka menengah yang kuat melalui hilirisasi dan kebutuhan industri baterai. Oleh karena itu, saham ini diproyeksikan meningkat pada fase Rp3.193 — Rp3.286.
TLKM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
TLKM tetap relevan sebagai saham defensif dalam kondisi market uncertainty. Stabilitas bisnis dan dominasi pasar membuat saham ini cenderung menjadi tempat rotasi dana saat investor mengurangi eksposur terhadap saham dengan volatilitas tinggi.
Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp3.100, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp3.162 — Rp3.224.
CPIN – PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk
Dalam fase pasar yang cenderung defensif, sektor konsumsi primer mulai kembali diperhatikan karena memiliki ketahanan permintaan domestik yang relatif stabil, sehingga menyebabkan penutupan perdagangan saham CPIN di angka Rp4.170.
Kemudian, CPIN juga dinilai menarik karena berada di sektor kebutuhan pokok yang umumnya lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi dibanding sektor siklikal. Oleh karena itu, saham ini diproyeksikan meningkat pada fase Rp4.295 — Rp4.378. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com



