Mitrapost.com – Artificial intelligence (AI) kini semakin banyak digunakan. Namun lonjakan penggunaan AI membuat kapasitas kabel laut cepat habis. Sebagai contoh kabel laut Bifrost yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat.
Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba mengungkapkan bahwa kabel laut Bifrost butuh lima tahun untuk membangunnya. Namun kapasitas kabel justru habis terpakai kurang dari setahun.
“Untuk membangun kabel itu dibutuhkan waktu sekitar lima tahun. Tetapi kurang dari satu tahun, kapasitasnya sudah habis,” ujar Budi dilansir sari Detik.
Hal itu menunjukkan, permintaan konektivitas jauh lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk membangun infrastuktur baru.
“Artinya, pertumbuhan demand sekarang jauh lebih cepat dibandingkan waktu yang kita butuhkan untuk membangun infrastrukturnya. Kebutuhannya sangat tinggi,” ujarnya.
Kini industri pun menghadapi tantangan untuk memangkas waktu pembangunan infrastruktur agar dapat mengejar pertumbuhan permintaan.
“Kalau saat ini membangun kabel membutuhkan waktu sekitar lima tahun, pertanyaannya apakah proses tersebut bisa dipercepat sehingga pembangunan dapat mengikuti demand,” ujarnya.
Saat ini, tak hanya operator telekomunikasi yang membangun kabel laut. Melainkan sudah banyak pemain seperti perusahaan teknologi besar Google, Meta, Amazon hingga Microsoft.
Tantangan lainnya yang dihadapi adalah konflik di Timur Tengah yang berpotensi menyebabkan jalur kabel internasional seperti di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah terdampak.
Kondisi geopolitik tersebut juga berpotensi mengganggu konektivitas menuju Eropa, Asia, dan kawasan lainnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






