Mitrapost.com – Akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang muncul di wilayah terdampak peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan mencapai angka 306.309, tercatat hingga pertengahan bulan Oktober 2026.
Angka tersebut didapat dari data pembaruan resmi milik Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency Operations Center/PHEOC) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
“306.309 total kumulatif kasus ISPA,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, Senin (19/10/2026), dikutip dari Tirto.
Berdasar pada angka kumulatif dalam kasus tersebut, kelompok usia anak-anak dan di bawah lima tahun (balita) tercatat sebagai korban yang paling banyak terkena dampak dari paparan asap peristiwa karhutla.
Pada perinciannya, Kemenkes RI mengkotakkan penderita ISPA ke sejumlah kelompok rentan, seperti anak-anak dengan kisaran 6–9 tahun sebanyak 77.022 kasus, 69.015 kasus untuk balita berusia 0–5 tahun, serta orang tua lanjut usia (lansia) lebih dari 60 tahun berjumlah 49.680 kasus.
Kemudian, penderita asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dilaporkan sebanyak 22 kasus. Sementara itu, data untuk kelompok rentan lainnya seperti ibu hamil dan pekerja luar ruangan hingga kini masih berada dalam proses pemilahan di lapangan.
Menanggapi data tersebut, Pemerintah Pusat melalui Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, melakukan peningkatan penyaluran bantuan masker dan kapasitas rumah oksigen di wilayah terdampak peristiwa karhutla.
“Kirimkan segera 500 ribu masker tambahan untuk setiap provinsi terdampak, beserta oxygen concentrator, dan pasokan obat-obatan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan daerah,” tegas Budi.
“Seluruh Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di wilayah terdampak wajib membuka layanan rumah oksigen dan menjamin ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk penanganan ISPA dan diare,” lanjutnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






