Mitrapost.com – Jumlah lulusan pendidikan tinggi yang menganggur semakin banyak. Hal itu terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS).
Tercatat, penganggur dari lulusan pendidikan tinggi jenjang D4, S1, S2, dan S3 mencapai1,03 juta orang per Mei 2026 atau mencapai 14,31% dari total penganggur sebanyak 7,22 juta.
Jumlah tersebut naik dibanding November 2025 yang berada di angka 12,37%. Kemudian pada Februari 2026 mencapai 14,27%.
Pemerintah sendiri mengatasinya dengan membuka program Magang Nasional atau MagangHub. Namun hal itu dinilai belum mampu menekan angka pengangguran.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyebut, penyebab tingginya angka pengangguran karena kebutuhan industri dan tenaga kerja yang tersedia tak selaras.
Tenaga kerja Indonesia juga masih minim yang bersertifikasi, padahal itu yang menjadi kebutuhan utama industri.
Pada lain sisi, tingginya pengangguran dari kalangan terdidik juga bisa mengindikasikan bahwa lapangan kerja Indonesia tak siap menggaji orang berpendidikan, yang notabene gajinya lebih tinggi.
Sedangkan program Maganghub dinilai belum mampu mengatasi masalah pengangguran karena program tersebut hanya menyerap sedikit orang. Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan berbasis sektor padat karya, karena banyak menyerap tenaga kerja.
“Saya sih masih berharap pada sektor padat karya, dan padat karya itu menjadi sektor yang sangat penting dalam menjalankan tenaga kerja,” ujar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan dilansir dari Bisnis.com.
Sedangkan ia menilai, saat ini industri Indonesia cenderung bergerak ke sektor jasa dibandingkan padat karya. Akibatnya, tenaga kerja yang terserap sangat sangat minim.
Pemerintah juga disebut belum memberikan program-program yang memberikan stimulus maupun dukungan terhadap sektor tenaga kerja dalam bentuk riil.
Pihak perusahaan sendiri masih menghadapi biaya input produksi yang tinggi utamanya sektor energi.
Kemudian Indonesia juga masih ketergantungan dengan bahan baku impor. Nilai tukar rupiah yang turun juga menyebabkan biaya impor meningkat. Sehingga kapasitas produksi menjadi terbatas dan berdampak pada perekrutan tenaga kerja baru menjadi sulit. (*)

Redaksi Mitrapost.com





