oleh

Kasus Perceraian Kian Meningkat di Tengah Pandemi, Mengapa Demikian?

Mitrapost.com – Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan beredarnya video yang merekam antrean mengular pendaftaran perceraian di satu Pengadilan Agama di Bandung. Video tersebut lantas menjadi viral, dikomentari dan dibahas di sosial media maupun berbagai grup percakapan.

Lantas, apa yang menyebabkan peningkatan kasus perceraian di tengah pandemi ini?

Baca juga: Istri Menteri Agama Bagi Tips Kuatkan Keluarga di Tengah Pandemi

Dikutip Kumparan.com menurut Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga, Roslina Verauli M.Psi., Psi ada periode krisis yang perlu dipahami oleh pasangan suami istri di masa-masa awal pernikahan. Seperti saat awal pernikahan, tahun pertama pernikahan, dan saat kelahiran anak pertama.

Menurutnya finansial kerap kali menjadi isu yang menjadi masalah ketika dalam pernikahan. Namun krisis tersebut tidak menjadi sesuatu yang buruk bila suami. istri mampu melewati masalah tersebut dengan baik. Namun tentu tidak semua pasangan mampu melewatinya, sehingga berujung pada perceraian. Lantas, apa saja masalah utama terjadinya hal itu?

Baca juga: Dewan Apresiasi Banpres Sebagai Upaya Pemerintah Hidupkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Kondisi terlalu lama di rumah dengan keadaan yang serba terbatas bisa memicu konflik suami istri. Pada periode kritis tersebut, sering kali keributan muncul dari permasalahan mendasar dalam pernikahan.

  1. Masalah pembagian peran

Di Indonesia sendiri, pembagian peran dalam rumah tangga di rumah sangat sulit akibat adanya budaya tradisional yang masih dianut oleh masyarakat. Masyarakat masih meyakini bahwa bila suami bekerja dan istri juga bekerja, namun pada saat menjalankan peran harian tetap dilakukan oleh istri. Padahal ada pekerjaan rumah yang sebenarnya masih bisa dibagi dengan pasangannya.

Baca juga: Dewan Apresiasi Banpres Sebagai Upaya Pemerintah Hidupkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Banyak peran wanita seperti mengasuh anak, masalah rumah tangga, masalah emosional dan mental, serta karir membuat peran tersebut menjadi berat dan terkesan tidak adil. Sehingga dampaknya adalah munculnya ketegangan peran antar suami istri.

Kita harus memahami bahwa peran ini seharusnya dibagi, tapi sayang cara perempuan menghayati dirinya itu cenderung mereka melihat diri mereka dari pengamatan sosial. jadi kemampuan wanita mengasuh anak, mengurus rumah tangga, seolah-olah itu adalah peran perempuan. Tapi itu semua hanya isu gender lho.

Baca juga: Studi Menyebut Pewarna Rambut Memicu Risiko Kanker

  1. Wanita sulit mengungkapkan keluh-kesah

Wanita cenderung sulit untuk bisa berkomunikasi tentang keluh-kesahnya dengan suami. Sehingga maksud dan tujuan yang diinginkan istri tidak sampai kepada suami. Banyak wanita yang tidak paham bagaimana cara mengomunikasikan pembagian peran tersebut dengan suami, akibatnya timbullah konflik dalam rumah tangga.

  1. Manajemen konflik yang tidak sempurna

Adanya ketidakjelasan peran dalam rumah tangga, dan sulitnya berkomunikasi dengan pasangan terkait hal tersebut sampai timbul konflik, bisa jadi karena pasangan suami istri tidak memahami seperti apa manajemen konflik rumah tangga yang baik.

Pernikahan bisa berlangsung dengan kebahagiaan jika pasangan saling mengerti tentang kebutuhan satu sama lain, mampu bercerita dengan pasangan, dan mampu mengendalikan emosi diri sendiri. Apalagi perempuan adalah pusat emosi di rumah.

Baca juga: 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebookinstagram, dan twitter

Redaktur: Atik Zuliati

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed