oleh

Kilas Balik PKL Simpang Lima, Sejak 1992 hingga Kini

Pati, Mitrapost.com – Keputusan Pemerintah Kabupaten Pati merelokasi PKL Alun-Alun Simpang Lima Pati ke TPK disesalkan banyak pihak. Thukul, ketua PKL TPK (Tempat Pelelangan Kayu) menuturkan sterilnya alun-alun dari pedagang menurutnya tak hanya merugikan pihak PKL melainkan juga pemerintah kabupaten.

Pasalnya kata Thukul, alun-alun ketika masih ramai pedagang pernah menjadi salah satu destinasi wisata kebanggaan warga Pati, bahkan pernah dijadikan percontohan tata kelola alun-alun oleh Kabupaten Rembang.

Baca juga: Relokasi PKL, Pedagang Bangkrut hingga Rumah Tangga Hancur

Kini setelah steril dan dibangun beberapa infrastruktur, terlihat pengunjungnya kian sepi. Wisatawan kurang, otomatis akan berdampak pada turunnya beberapa pajak seperti parkir dan retribusi dagang.

“Sekarang tujuan wisata orang Pati pindah ke kota lain. Dulu kalau ada orang dari luar kota pasti diajak ayo rekreasi ke alun-alun. sekarang nggak ada. Pasti ada imbasnya dengan perekonomian Pati karena wisatawan berkurang,” kata Thukul kepada Mitrapost.com saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Baca juga: Disdagperin Pati Sarankan Pedagang PKL TPK Berdagang Secara Konsiten untuk Tarik Pelanggan

Thukul yang mengaku sudah menjadi PKL sejak tahun 1992 ini mengatakan, awalnya para pedagang di Simpang lima adalah pedagang yang mangkal di daerah Rogowangsan.

Ketika di Simpang lima kala itu sedang tidak kondusif karena banyak terjadi tawuran pemuda, akhirnya Yusuf Muhammad Bupati yang menjabat saat itu sengaja memindahkan pedagang di Gowangsan ke alun-alun untuk menghadang para berandalan di badan jalan.

Baca juga: Banyak PKL Keluar dari Pusat Kuliner, Dewan Pati Nilai Tempat Relokasi Kurang Strategis

“Bupati terdahulu untuk menghalau anak muda kebut-kebutan, pedagang Gowangsan dipindah ke alun-alun agar menghalau di badan jalan,” kata Thukul.

Komentar

Berita Terkait