oleh

Sampah Serapah, Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ala Pemuda Sukolilo

Pati, Mitrapost.com Alunan tembang dikumandangkan seseorang dari kejauhan. Perlahan-lahan, pelantun tembang terlihat mengenakan pakaian serba hitam dengan sebuah selendang mengikat tubuhnya.

Gadis cantik itu berjalan pelan, diikuti dua kawannya yang berpakaian sama. Bergerak pelan, khidmat. Mereka menarikan Tari Gandring Landrang Gajah Seno. Tari yang diciptakan untuk mengiringi kepergian Dalang Seno tersebut dimainkan begitu apik oleh para mahasiswa ISI Surakarta ini.

Meraka berserah diri kepada Tuhan melalui gerak dan tarian agar bumi selamat dari musibah, bencana dari sampah maupun pandemi.

Pertunjukkan tari itu merupakan salah satu rangkaian acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari lalu.

Selain pertunjukkan tari, acara yang digelar di Dukuh Sanggrahan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo pada Minggu, (22/2/2021), ini juga menampilkan pembacaan puisi, performance art, pameran seni rupa dari sampah, diskusi tentang sampah hingga penggalangan dana untuk korban banjir yang ada di Kabupaten Pati, khususnya Kecamatan Sukolilo.

Baca juga: Nasib Warga di Hilir Sungai, Selalu Jadi Muara Sampah

Acara ini diinisiasi oleh dua kelompok anak muda di Kecamatan Sukolilo, yakni Rangaswengi dan Sandal Petualang. Mereka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional dan mencoba mengedukasi anak-anak tentang bahaya sampah.

“Acara ini dinilai 4 hari lalu, mulai tanggal 18 Februari dengan menyusuri kali dan memungut sampah, tanggal 19 Februari ada pembuatan karya anak-anak dari sampah yang didapatkan dari penyusuran kali,” tutur salah satu panitia, Iqbal.

Acara ini juga menampilkan sebuah film dokumenter karya para pemuda Rangaswengi dan Sandal Petualang. “Semoga alam yang baik ini lebih baik lagi. Covid selesai dan banjir juga selesai,” imbuh Iqbal.

Ketua Panitia, Bagus Setya, menambahi acara ini sebagai ‘pepiling’, pengingat, bahwa pada tahun 2005 silam ada tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, yang memakan korban 157 jiwa dan menghilangkan dua kampung (Cilimus dan Pojok) dari peta.

Baca juga: Sarpras Tak Memadai, Sampah di TPS Pasar Pamotan Menumpuk

Acara ini juga timbul dari kegelisahannya tentang prilaku masyarakat yang kurang menghargai alam sebagai makhluk yang saling berdampingan.

Masyarakat sering mengadakan sedekah bumi yang bertujuan mensyukuri hasil bumi, tetapi dalam prilakunya mereka sering kali merusak bumi dengan membuang sampah dan lainnya.

“Permasalahannya adalah pembuangan sampah yang terus terusan. Maka dari itu mari kita mencoba mendaur ulang. Mengenalkan bahwa plastik yang sifatnya berbahaya bagi lingkungan, tak sejalan dengan tradisi yang mempunyai sifat daur ulang atau rantai makanan,” tandas Bagus. (*)

Baca juga: Proses IPAL, Bau Limbah Pabrik Ikan Dinilai Masih Wajar

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Ulfa

 

Komentar

Berita Terkait