Rembang, Mitrapost.com – Kurdianto, seorang petani yang berasal dari Dukuh Kedungwatu, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang berhasil mengelola sawah padi miliknya tanpa menggunakan pupuk urea.
Inovasi yang ia kembangkan berawal ketika dirinya menerima pelatihan oleh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Sumber saat memberikan arahan tentang bagaimana cara mengurangi penggunaan pupuk urea.
Tak lama setelah itu, Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Provinsi Jawa Tengah juga mengadakan pelatihan pemanfaatan pupuk organik menggunakan bahan dasar mikrobakteri. Lantas Kurdianto memanfaatkan ilmu dari kedua kegiatan tersebut.
Dirinya mengungkapkan, untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan sistem vegetatif, Kurdianto memakai taoge atau buah maja. Sedangkan untuk generatif, memakai campuran umbi-umbian. Campuran tersebut juga berguna untuk mencegah tumbuhnya jamur pada tanaman.
“Dari sistem awal kocor (tanah disiram pakai gayung) waktu olah tanah, sekitar 200liter. Saat pengolahan tanah mikrobakteri dicampur dengan air, perbandingannya 1:2, setelah itu disemprot pupuk Jakaba yang kita buat sendiri “terang Kurdianto pada Selasa (25/01/2022).
Anggota kelompok tani Angudi Luhung Tani 2 tersebut sempat dimarahi oleh ayahnya saat baru pertama kali mencoba inovasi ini. Akan tetapi kurdianto tetap memberanikan diri mengolah lahan seluas 2000m² miliknya.
Saat ini padi yang dikelola oleh kurdianto telah memperlihatkan hasil yang nyata. Pada tanaman padi berjenis cakra buwana, ia menuturkan masa panen padi tersebut yaitu 85 hari. Saat ini padi miliknya telah berusia 80 hari, sehingga kemungkinan nanti akan panen pada 30 Januari 2022.
Inovasi yang dikembangkan oleh kurdianto tersebut mendapatkan apresiasi langsung dari kepala dinas pertanian dan pangan kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto. Agus menilai, Kurdianto merupakan sosok serta contoh yang baik karena mampu menerapkan ilmu yang ia dapatkan saat mengikuti pelatihan.
“Rencana akan kita ekspos dan getok tular kan ke yang lain. Ternyata budidaya padi dengan cara organik pun bisa, tidak harus pakai pupuk anorganik,”ungkapnya.
Agus menambahkan, Kabupaten Rembang memiliki potensi untuk memproduksi pupuk organik dengan total populasi sapi sekitar 130 ribuan. Penggunaan pupuk organik ini perlu dipacu sehingga bisa menjadi solusi di tengah mahalnya pupuk anorganik. (*)





