Mitrapost.com – Harga telur ayam akhir-akhir ini meroket. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia bahkan mencatat saat ini harga telur rekor tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) akan melakukan operasi pasar untuk telur ayam apabila harganya masih di atas Rp 30.000 per kg.
“Sehingga saya sampaikan kepada asosiasi peternak layer nasional kalau pasang harga masih di atas Rp 30.000, minggu depan kita operasi pasar. Operasi pasar harga akan jatuh lagi, turun lagi otomatis,” kata Kepala NFA Arief Prasetyo Adi, Sabtu (27/8/2022).
Pada 25 Agustus 2022 lalu, NFA menggelar pertemuan Persatuan Insan Perunggasan Indonesia. Pada pertemuan itu, diusulkan bahwa Harga Acuan Pembelian/penjualan (HAP) Telur Ayam Ras Rp 22.000 sampai dengan Rp 24.000 per kg di tingkat peternak dan Rp 27.000 per kg di konsumen.
Arief mengatakan bahwa pihaknya memberikan kewajaran apabila telur ayam dijual dengan harga Rp 28.000-29.000 per kg, atau sedikit di atas HAP. Namun apabila telur ayam masih di atas Rp 30.000, maka ia langsung menerapkan operasi pasar.
“Jadi kalau sekarang ada teman-teman pedagang (menjual) di atas Rp 30.000 sebenarnya langsung secara moral itu dia kena, dan ke depan kita mau bilang ‘kalau begitu nanti harga jatuh saya tidak akan bantu karena kalian (pedagang) mencurangi janji sendiri,” kata Arief.
Arief menjelaskan dalam melaksanakan operasi pasar pihaknya akan menggandeng Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Dia memberikan batas waktu sampai hari ini untuk melihat perkembangan harga telur, bila masih di atas Rp 30.000 per kg maka minggu depan akan dilakukan operasi pasar.
Adapun harga telur yang akan dijual di operasi pasar ini, Arief mengatakan batas harga kewajarannya adalah Rp 27.000 sampai Rp 30.000 per kg. “Jangan bicara di bawah Rp25.000 lagi, kasihan peternaknya,” ujarnya.
Menurutnya, harga tersebut sudah mempertimbangkan semua variabel di dalam produksi telur ayam, mulai dari biaya produksi naik, harga pakan ternak naik, hingga bahan bakar untuk keperluan transportasi juga naik.
Sementara untuk lokasi operasi pasar, Arief menjelaskan rencananya akan diselenggarakan salah satunya di DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya. Selain itu, juga akan dilakukan di wilayah produsen telur seperti Blitar, Kendal, dan Ciamis.
“Jadi operasi pasar itu ada dua, di lokasi konsumen dan produsen,” pungkasnya. (*)
Redaksi Mitrapost.com






