Mitrapost.com – Sejumlah mahasiswa dari beberapa kampus mendeklarasikan Sumpah Pemuda 2.0. Mereka menyinggung terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi hingga refleksi kepemimpinan Joko Widodo.
Deklarasi tersebut dipimpin oleh Ketua BEM UI Melki Sedek Huang, Ketua BEM KM UGM Gielbran Muhammad Noor, Ketua BEM Unpad Haikal Febrian Syah, Sekjen SEMA Paramadina Afiq Naufal, dan mahasiswa UNNES Fajar Rahmat Sidik.
“Bagi kami, putusan MK kemarin tak sedikit pun memberi arti positif bagi generasi kami. la malahan membunuh kepercayaan kami akan terangnya masa depan republik ini,” kata Melki Sedek Huang di Gedung Joang ’45, Rabu (22/11/2023).
Dalam hal ini, Melki mengatakan putusan MK diwarnai dengan politik dinasti. Menurut mereka, hal seperti ini menjadi ancaman bagi anak miskin untuk menjadi pemimpin.
“Bangkitnya politik dinasti yang hadir karena pembajakan konstitusi kemarin akan membunuh harapan jutaan pemuda dan anak-anak Indonesia yang bermimpi akan cerahnya masa depan. Politik dinasti adalah ancaman bagi setiap anak-anak miskin yang bermimpi menjadi pemimpin,” kata dia.
Melki menyebut putusan MK soal batas usia menjadi bukti akhir kepimimpinan Presiden Joko Widodo.
“Bagi kami, keluarnya putusan MK kemarin dan juga berbagai hal yang terjadi menjelang Pemilu 2024 ini adalah bukti bahwa akhir pemerintahan Pak Jokowi adalah akhir pemerintahan yang betul-betul tidak taat konstitusi dan tidak menegakkan demokrasi dengan baik,” ujar Melki.
“Oleh karena itu, catatan bagi kami adalah per hari ini kami tidak tinggal diam untuk hal-hal tersebut, jangan sampai jadi semakin parah,” imbuh dia.
Selain itu, BEM UGM Gielbran menyuarakan dengan lantang demokrasi Indonesia sama halnya dengan jagung.
Selain Melki, Ketua BEM KM UGM Gielbran dengan lantangnya menyamakan demokrasi Indonesia dengan jagung. Hal itu juga diikuti oleh seluruh mahasiswa yang hadir mengikuti deklarasi dengan membawa satu buah jagung.
“Arti dari jagung sendiri artinya, kita tahu bahwa demokrasi kita masih sangat muda usianya. Ini menjadi sebuah pertanda. Kerap ada simbolis bahwa seumur jagung itu usia dari demokrasi kita yang justru semakin ke sini. Meskipun usia kita masih muda, usia demokrasi kita seumur jagung, justru dikebiri dan ditindas dan semakin dimonopoli oleh oknum. Dan justru lupa untuk semakin menyuburkan demokrasi itu,” imbuhnya.
Redaksi Mitrapost.com






