Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (13/1/2026) dibuka menguat ke angka 8931.24 pada pembuka perdagangan. Sedangkan pada penutupan pergadangan Senin (12/1/2026), IHSG di angka 8884.72. Hal itu menunjukkan aksi profit taking dan aksi ambil untung.
Investor asing tetap mencatatkan net buy di sejumlah saham besar, menandakan selektif akumulasi pada saham blue-chip. Tekanan di pasar valas masih ikut memengaruhi sentimen aset Indonesia.
Berikut ini 5 saham berpotensi mengalami pergerakan harga signifikan pada 14 Januari 2026.
TLKM – Telkom Indonesia
Saham TLKM ditutup di lever Rp3.520 pada penutupan perdagangan Senin (13/1/2026). Saham ini diprediksi bisa menguat ke level Rp3.800 — Rp3.900 atau naik 8–12%.
Hal itu didukung dengan dominasi di telecom dan pendapatan data stabil, dividen tinggi memperkuat sisi yield. Kemudian EPS dan kapitalisasi besar dianggap defensif atau blue-chip.
Alasan lainnya karena saham ini masuk dalam top net-buy investor asing di sela koreksi pasar. Namun ada risiko persaingan era digital, tekanan biaya jaringan fiber & 5G, risiko regulasi tarif telekomunikasi.
BBRI – Bank Rakyat Indonesia
Bank BRI menjadi salah satu bank terbesar di segmen mikro atau UMKM dan kinerja kreditnya besar. Digitilasis layanan mempercepat loan book.
Hal itu dapat menjadi alasan saham BBRI patut diperhitungkan. BBRI diprediksi naik di level Rp3.900 — Rp4.100 atau naik 6–10% dari harga penutupan Rp3.700 per Senin (13/1/2026).
BBRI sendiri termasuk saham yang aktif dibeli asing walaupun IHSG turun. Namun ada risiko kredit macet mikro meningkat bila ekonomi melambat, nilai NIM bisa tertekan.
ANTM – Aneka Tambang
ANTM ditutup pada angka Rp3.830 per Senin (13/1/2026). Saham dini diprediksi naik di level Rp4.100 — Rp4.400 atau 7–15%.
Hal itu didukung dengan fundemantal perusahaan. Dimana harga komoditas logam (nikel, emas) global cenderung mendukung margin. Kemudian diversifikasi bisnis mineral dasar + downstream battery metals.
Sentimen komoditas berkontribusi pada akumulasi asing. Namun ada risiko dari volatilitas harga komoditas global, sentimen permintaan China.
ADRO – Adaro Energy
ADRO ditutup di angka Rp2.150 pada Senin (13/1/2026). Saham ini diprediksi bisa naik Rp2.300 — Rp2.500 atau 8–14%.
Hal itu didukung perusahaan yang merupakan produsen batu bara besar; arus kas kuat dari operasional ekspor. Kemudian dividend yield menarik dari laba operasional. Namun ada risiko ketidakpastian harga komoditas energi dan tekanan desakan ESG.
IMPC – Impack Pratama Industri
Saham IMPC ditutup di level Rp3.640 pada Senin (13/1/2026). Saham ini diprediksi naik di level Rp3.900 — Rp4.200 atau 8–16%.
Hal itu didukung dengan perusahaan yang berfokus pada industri bahan bangunan dan properti sehingga siklus aset fisik kembali aktif.
Kemudian kinerja volumetrik sering sensitif terhadap belanja infrastruktur. Saham ini diminati asing sebagai gap-up potensial. Namun ada risiko siklus properti turun jika suku bunga naik atau kredit melambat. (*)
Redaksi Mitrapost.com





