Mitrapost.com – Kondisi geopolitik Timur Tengah yang terjadi saat ini tidak hanya mendorong lonjakan biaya logistik dan energi global, tetapi juga mempengaruhi harga produk dan bahan baku plastik. Hal ini bisa berpotensi pada kenaikan harga produk makanan dan minuman kemasan.
Melansir dari Detik Finance, harga minyak mentah mengalami pelonjakan sejak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai, dari yang semula 67 dolar AS per barel menjadi 98-100 dolar AS per barel.
Sementara, produk plastik sebagian besar berasal dari hasil pengolahan minyak bumi, termasuk dengan jenis polietilen (PE) dan polipropilen yang paling banyak digunakan di dunia. Hal ini dapat diartikan bahwa kenaikan harga minyak mentah juga mampu meningkatkan biaya bahan baku plastik.
Apalagi, data dari S&P Global Energy menyebut bahwa kawasan Timur Tengah menjadi pemasok utama dengan wilayah yang menyumbang sekitar 25% ekspor PE dan polipropilen dunia. Secara otomatis, rantai pasok produk dari turunan minyak bumi akan terganggu.
“Sekitar 84% kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut,” jelas Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, dikutip Kamis (02/04/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, profesor praktik rantai pasok di Universitas Syracuse, Patrick Penfield, mengatakan bahwa plastik memiliki posisi penting di sejumlah industri, seperti produksi barang hingga proses pengemasan.
“Akibatnya, produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, dan kantong sampah bisa menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga dalam beberapa minggu mendatang,” ucap Penfield. (*)

Redaksi Mitrapost.com



