Mitrapost.com – Bahan baku pangan bagi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di wilayah Indonesia Timur disebut mengalami keterbatasan pasokan telur, sayur, dan sejumlah komoditas lainnya.
Hal tersebut dibahas oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, dalam pertemuannya dengan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, di Kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI).
Selain terkait keterbatasan pasokan, keduanya juga membahas tentang peningkatan penyerapan telur produksi peternak melalui penambahan frekuensi menu telur dalam program MBG, dengan tujuan penjagaan harga di tingkat peternak.
“BGN kita kolaborasi, bahan bakunya disiapkan. (Kemudian), saya minta harga telur (sekarang) agak turun, tolong dong satu kali biasanya jadikan tiga kali seminggu konsumsi. InsyaAllah (harga telur) naik,” ujar Amran usai pertemuan, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (01/07/2026).
Diketahui, pertemuan tesebut merupakan bagian dari penataan tata kelola MBG yang saat ini tengah digencarkan oleh BGN sejak pergantian kepemimpinan, yang sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang pemenuhan pasokan bahan baku pangan lokal bagi SPPG.
Dalam hal ini, salah satu persoalan yang diperhatikan adalah sejumlah wilayah Indonesia Timur seperti Pulau Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, dengan kondisi produksi pangan lokalnya yang dinilai masih belum mampu melakukan pemenuhan kebutuhan SPPG.
Kondisi tersebut mengharuskan mereka untuk mendatangkan sejumlah bahan baku pangan dari Pulau Jawa dan Sulawesi, yang dinilai memunculkan risiko penurunan kualitas kesegaran bahan pangan saat tiba di dapur MBG.
Oleh sebab itu, Amran mengatakan terkait pihaknya yang berkolaborasi dengan BGN guna memastikan kebutuhan bahan baku terpenuhi, termasuk dukungannya terhadap penguatan rantai pasok sekaligus penataan tata kelola MBG guna mendukung pelaksanaan program tersebut. (*)

Redaksi Mitrapost.com






