Kudus, Mitrapost.com – Keberadaan satu makam di pekarangan samping masjid Dukuh Muneng RT 5 RW 3 Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus menuai protes dari warga setempat.
Makam tersebut diketahui merupakan makam tokoh setempat bernama Musdiyono yang meninggal pada Rabu (1/7/2026) lalu.
Jasadnya disemayamkan di dekat Masjid Al Maghfiroh atas wasiat almarhum yang meminta dimakamkan di sana.
Namun posisi makam memang berhadapan dengan rumah warga setempat. Jaraknya hanya terpisahkan jalan desa sepanjang sekitar 100 meter.
Salah satu warga bernama Rohmad mengaku sempat kaget melihat ada makam di depan rumahnya. Ia mengaku tidak dimintai izin dari pihak keluarga yang meninggal.
“Saya setelah kerja terus ke sini tiba-tiba kaget kok tiba-tiba ada makam seperti ini di depan rumah saya tidak diizini dari pihak meninggal tadi. Keluarga tidak ada iktikad baik datang ke rumah,” ujarnya dilansir dari Detik.
Namun pihaknya merasa sungkan untuk protes karena yang bersangkutan merupakan tokoh di lingkungan tersebut.
“Cuma pada sungkan karena beliau tokoh yang ada di sini,” jelasnya.
Warga lain juga mengaku resah karena keberadaan makam tersebut. Terlebih ia memiliki anak yang masih kecil.
“Dulu nggak pernah kayak malam itu lihat-lihat atas terus, biasanya main biasa saja kalau malam sekarang lihat atas,” ujar Rian.
Sementara itu, ahli waris bernama Zainul Musthofa mengatakan bahwa almarhum merupakan pendiri masjid dan pondok pesantren di Dukuh Muneng.
Ia menitipkan wasiat ingin dimakamkan di tanah miliknya yang berlokasi di samping masjid. Ia ingin santri dapat berdoa di sekitar pusara tersebut.
“Jadi status almarhum Bapak Musdiyono adalah pendiri Masjid Al-Magfiroh kemudian di belakang tanah milik almarhum. Beliau wasiat ketika beliau meninggal dunia bisa dimakamkan di tanah tersebut karena beliau pendiri ponpes di sini. Tujuannya ketika santri di sini bisa untuk ziarah, bisa mengaji biar pahalanya sampai ke bapak itu wasiat,” ujarnya.
Daerah tersebut nantinya juga akan dibangun pondok pesantren.
“Wasiat ini ketika bapak dan kami keluarga kumpul ketika di rumah. Bapak bilang begini ‘besok nik aku meninggal dunia tolong dikhatami selama 7 hari berturut-turut bersama santri-santri dan dimakamkan di samping masjid sebagai pendiri masjid’,” paparnya.
“Wasiat bapak itu nanti bisa dibangun tempat layak untuk mengaji, jadi bukan makam tok. Jadi nanti seiring waktu akan kelihatan tidak hanya makam tok tapi bisa bangunan pondok itu,” lanjut dia.
Ponpes belum didirikan, namun ada penolakan dari warga karena keberadaan makam tersebut.
“Tapi keburu ada laporan, katanya yang lapor LSM lapor kok tiba-tiba ada makam,” paparnya.
Pihaknya mengaku sudah mendapat izin dari pemerintah desa untuk memakamkan almarhum di sana.
“Padahal meninggal bapak ini jam 9, jam 10 pagi wasiat kami sampaikan kepada pak modin rembukan dan koordinasi dengan kepala desa ini atas nama almarhum minta dimakamkan di samping masjid,” paparnya.
“Itu silakan tapi nanti izinnya bisa diurus. Padahal meninggal jam 9. Kami berkoordinasi dengan Pak Kades jam 11 dan pemakaman jam 16.00 WIB kita ajukan jam 11 itu tidak ada masalah. Jedanya panjang kalau warga tidak setuju diselesaikan dengan baik-baik,” lanjutnya.
Protes warga muncul setelah empat hari kemudian. Pihak desa sudah memediasi kasus ini. Namun belum ada titik temu.
“Tiga hari kematian tetangga lapor ke desa. Empat hari saya dilaporkan ke desa. Saya dipanggil desa, saya dan istri dan pengurus masjid saya ke balai desa jam 1. Saya kira mediasi saya dengan kepala desa dan pelapor ternyata saya di situ sudah ada pihak kecamatan, Kesbangpol, terus dari pelapor ada 15 orang. Padahal undangan ada 1 kok ternyata banyak, saya kira tingkatan desa,” paparnya.
“Intinya di situ kami bilang mengalah. Kalau memang mengganggu kami dari ahli waris minta maaf dan minta solusi. Yang penting makam Bapak tidak relokasi. Pihak desa tidak ada solusi,” paparnya.
Sebagai solusi, pihaknya pun akhirnya mendirikan tembok tinggi mengelilingi makam.
“Padahal ini kita masih berduka, baru kematian 7 hari, 4 hari sudah diusik seperti itu,” jelasnya.
“Kita tidak ingin mencari permusuhan tidak, kasihan ibu di rumah,” lanjutnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






