Pati, Mitrapost.com – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengaku prihatin dengan tingginya angka kematian ibu hamil dalam lima tahun terakhir.
Keprihatinan itu diungkapkan oleh Anggota Komisi D DPRD Pati, Endah Sri Wahyuningati dari Fraksi Golongan Karya (Golkar). Menurutnya, kasus tersebut tidak bisa diselesaikan oleh ibu hamil saja.
“Pastinya prihatin maka itu tidak bisa hanya diselesaikan di ibunya yang hamil,” kata Endah ditemui di Alun-alun Simpang Lima Pati, belum lama ini.
Menurutnya lagi, untuk meminimalisir kasus angka kematian ibu hamil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati harus memberikan edukasi kepada perempuan pra nikah.
“Seharusnya bahkan anak-anak pra nikah ini harus mendapatkan pelajaran pendidikan edukasi terkait ini,” jelasnya.
“Sehingga nanti pada saat ini dia sudah siap menikah itu bisa diterapkan sehingga pola hidup ketika menjadi seorang ibu kemudian hamil menjaga kehamilan kemudian merawat anak sampai usia lima tahun,” dia menambahkan.
Lebih lanjut dengan tingginya angka kematian ibu hamil ini, Endah berharap program yang diluncurkan Pemkab Pati Tempayan BuHarti (Sistem Pemantauan dan Pelayanan Ibu Hamil Risiko Tinggi) dapat terealisasi dengan baik. Sehingga berdampak terhadap Ibu hamil di Kabupaten Pati.
“Angka kematian ibu dan bayi ini juga masih tinggi. Sehingga program-program ada Tempayang Bu Harti semoga itu bisa teraplikasi dengan baik sehingga nama program dan hasil layanannya signifikan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengaku terus berupaya untuk meminimalisir angka kematian ibu hamil di wilayahnya.
Untuk diketahui, tahun 2021 angka kematian ibu hamil 21 kasus. Sementara, tahun 2022, angka itu mengalami penurunan menjadi 12 kasus. Namun pada tahun 2023, angka kematian ibu hamil kembali meningkat menjadi 18 kasus.
Sedangkan tahun 2024, lanjut dia, turun menjadi 12 kasus. Tahun 2025, angka kematian ibu hamil itu meningkat kembali menjadi 15 kasus.
Kematian ibu hamil, jelas dia, disebabkan karena kurangnya kesadaran untuk menjaga pada saat kehamilan. Selain itu, dilihat dari kasus dalam lima tahun terakhir ini, ia menilai penanganan yang dilakukan masih belum konsisten.
“Kasus kematian ibu ini menunjukkan bahwa keberhasilan kita menekan angka kematian ibu belum dapat dilakukan secara konsisten,” jelasnya. (*)

Wartawan Mitrapost.com




