Mitrapost.com – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Tengah mendorong ada evaluasi total standar operasional prosedur (SOP) pertandingan pencak silat pasca insiden atlet Blora mengalami kejang saat bertanding di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng 2026.
Aturan pencak silat yang berlaku saat ini, atlet yang jatuh akan lebih dahulu dihitung hingga 10 hitungan oleh wasit. Setelah itu, tim medis baru diperbolehkan melakukan penanganan.
Prosedur tersebutlah yang dinilai menimbulkan risiko. Sebab atlet yang mengalami benturan keras, keselamatan jiwanya berpotenasi terancam.
“Memang SOP di silat itu adalah harus dihitung begitu jatuh. Kemudian saat begitu jatuh dihitung sampai 10, itu seperti tinju hampir sama. Ini kemudian kita evaluasi,” ujar Sekretaris Umum KONI Jateng, Budi Santoso dilansir dari Kompas.
Untuk mencegah risiko tersebut, pihaknya berharap wasit memiliki kewenangan agar bisa menghentikan prosedur hitungan jika kondisi atlet membutuhkan pertolongan medis segera atau terjadi benturan fatal.
Keselamatan atlet, jelasnya, harus menjadi hal utama yang dipertimbangkan dalam pertandingan daripada memaksakan melanjutkan hitungan formal.
“Begitu jatuh, wasit harus menentukan segera kita tolong, tidak ada hitungan lagi. Ini harapan kita,” ujarnya.
Pihaknya pun telah menyampaikan usulan tersebut ke pengurus cabang olahraga pencak silat daerah. Harapannya dapat perubahan aturan di tingkat Pengurus Besar (PB) Pencak Silat.
“Yang kemarin sudah ada kelonggaran-kelonggaran itu untuk diusulkan ke PB. SOP itu untuk menjadi perhatian, untuk ditanggalkan apabila terjadi benturan yang mengakibatkan atlet itu dilihat dari sisi itu harus segera ditolong,” ujarnya.
Sebelumnya, atlet pencak silat Blora mengalami kejang usai terkena benturan di bagian kepala saat bertanding melawan atlet Surakarta di Porprov Jateng.
“Akibat benturan kepala sehingga memengaruhi aktivitas listrik otak pada atlet tersebut sehingga mengalami kejang-kejang. Ini merupakan gangguan neurologis,” kata Ketua Seksi Kesehatan PB Porprov Jateng, Elhamangto Zuhdan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tak ada tanda gangguan permanen yang serius. Gangguan neurologis itu disebut bukan karena serangan stroke.
Kini, atlet tersebut dilaporkan kondisinya sudah membaik setelah mendapatkan perawatan intensif di RS Primaya Semarang. (*)

Redaksi Mitrapost.com







