oleh

Lestarikan Jamu Sekaligus Tambah Penghasilan

Semarang, Mitrapost.com – Jamu sudah menjadi minuman sekaligus obat bagi orang Indonesia, khususnya orang Jawa. Namun, dewasa ini, minuman yang juga penghangat badan ini semakin ditinggal oleh generasi sekarang. Anak muda cenderung lebih suka minuman modern dari pada jamu.

Hal inilah yang disadari oleh Dewi Kartika Kurniawati. Ibu rumah tangga ini tak ingin jamu dipandang sebelah mata dan dilupakan oleh generasi penerus. Menurutnya jamu mempunyai khasiat yang besar bagi tubuh.

Pbb - Mitrapost.com

Banner Bphtb - Mitrapost.com

Pendahulu-pendahulu kita, lanjut Nita, berobat dengan jamu. Selain itu jamu dapat membuat wajah lebih awet muda. Maka, ia mencoba melestarikan jamu dengan memproduksi jamu tradisional secara sendiri. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, jamu menjadi salah satu minuman alternatif untuk meningkatkan imun tubuh.

Baca Juga :   Kekurangan Tak Menyurutkan Asa dan Kreativitas Seorang Gadis Disabilitas di Demak

“Saat ini ada delapan varian jamu. Di antara varian tersebut adalah beras kencur, kunir asem, kunyit asem, gula asem dan berbagai varian lainnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Nita ini.

Baca juga : Soesilo Toer, Penulis dan Pemulung Bahagia

Nita mengaku memproduksi dua kali dalam seminggu. Dengan sekali produksi mencapai 50 hingga 60 botol. Jamu-jamu buatannya ini bebas dari zat kimia maupun pengawet. Dan dari penuturan teman-temannya, jamu yang diberi brand Jamu Niten ini mempunyai keunggulan kepekatan.

“Maka dari itu, jamu ini hanya dapat bertahan 6 jam kalau tidak diletakkan di kulkas. Namun, apabila di taruh di kulkas dapat bertahan hingga 3 hari. Itu yang ndak asem-asem. Tapi kalau yang asem-asem dapat dua kali lipat. Karena asem-asemnya menjadi pengawet alami,” lanjut Nita.

Baca Juga :   Duh, Siswa di Pati Tak Punya HP untuk Belajar Online

Selain dikonsumsi, warga Kelurahan Wates ini juga mencoba menjual ke khalayak ramai. Dengan harga Rp 10 ribu. Ia memanfaatkan media sosial dan reseller di Kota Atlas. Omsetnya pun tergolong lumayan, mengingat ia hanya produksi dua kali dalam seminggu. “Mencapai Rp 1 juta lebih lah,” tandasnya.

Namun, Nita tak terlalu memedulikan jualannya. Ia hanya berharap jamu tidak dilupakan oleh generasi mendatang. Sehingga tidak diakui oleh bangsa asing. (*)

Baca juga : 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, instagram, dan twitter

Berita Terkait