oleh

Razia di 3 Pasar, Pelanggar Protokol Kesehatan Dihukum Nyanyi Hingga Bersihkan Sampah

Semarang, Mitrapost.com Puluhan pelanggar protokol kesehatan berhasil dijaring di tiga pasar tradisional di Kota Semarang. Yakni di Pasar Johar Baru, Pasar Karangayu dan Pasar Sampangan pada Rabu (16/9/2020).

Mereka diberikan sanksi berupa push up, membersihkan sampah, dan menyanyi lagu kebangsaan. Bahkan, juga diberi peringatan dengan mengisi pernyataan tertulis dan kartu tanda penduduk (KTP) nya disita seminggu.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo turut memantau pelaksanaan operasi di Pasar Johar dan Pasar Karangayu. Ia juga menyaksikan para pelanggar protokol menjalani rapid test setelah menjalani hukuman.

Salah satunya ialah Agus Setyawan yang terjaring operasi di Pasar Johar. Ia mengaku malu tertangkap basah tidak bermasker.

“Malu rasanya. Ya nanti pakai masker terus. Apalagi tadi dibilangin Pak Ganjar, kalau tidak pakai masker lagi, dihukum lari keliling pasar selama 10 kali,” katanya.

Baca juga: Sanksi Denda Diharapkan Beri Efek Jera Kepada Pelanggar Protokol Kesehatan

Menurut orang nomor satu di Provinsi Jawa Tengah ini, Kota Semarang menjadi perhatian karena memiliki tingkat penularan Covid-19 tertinggi di Jawa Tengah.

“Para pelanggar yang terjaring tidak hanya diberikan hukuman sosial, tapi juga langsung di-rapid. Tadi di Pasar Karangayu, ada 17 pelanggar yang di-rapid dan hasilnya non reaktif semuanya,” ucapnya.

Ganjar berharap, langkah itu dapat menyadarkan masyarakat untuk taat pada protokol kesehatan. Pemerintah, lanjut dia, tidak akan mengambil tindakan keras, apabila masyarakat mau taat dan tertib.

“Kami sampaikan pada masyarakat, bahwa operasi ini untuk mengedukasi. Kami tidak akan main keras atau kasar, namun kami ajak masyarakat membantu dan sadar menerapkan protokol kesehatan selama beraktifitas,” imbuhnya.

Selain pasar, Ganjar berharap operasi bersama ini terus dilakukan di sejumlah titik keramaian di Kota Semarang. Ganjar menitipkan agar warung makan juga menjadi sasaran, mengingat warung saat ini menjadi salah satu klaster di Kota Semarang.

“Penataan warung dan tempat keramaian lain harus dilakukan. Semua harus patuh untuk mengamankan dan menyelamatkan semuanya. Kalau tidak taat, ya langsung ditutup,” pungkasnya. (*)

Baca juga: 

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur : Ulfa PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed