oleh

Saat Sulit Menghadapi Kenyataan, Lafalkan Kalimat Ini

Mitrapost.com Takdir hidup tiap manusia di alam raya ini sudah ditetapkan dalam qadha dan qadar Allah. Sewajarnya manusia, makhluk yang lemah dan tiada sempurna ini, mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertai hidup mereka. Namun hidup tak semudah itu, kadang manusia didera rasa kecewa hingga sulit menerima kenyataan.

Saat dibelenggu rasa kecewa ini kadang manusia sampai pada titik tidak mudah atau bahkan tidak bisa menerima kenyataan. Saat mengalami pahitnya kenyataan ini, kondisi batin pun turut bergejolak dan mempengaruhi kekuatan mental.

Dalam kondisi tersebut, sebagai umat Islam kita diajarkan untuk mengucapkan kalimat berikut:

حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.

Artinya, “Cukuplah Allah bagiku dan ia sebaik-baik wakil.”

Baca juga: Perbanyak Istighfar, Allah Punya Solusi di Setiap Masalah Kehidupan

Anjuran ini, melansir dari NU Online, didasarkan pada hadis riwayat Imam Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi. Semangat anjuran ini bukan hanya terletak pada pelafalan kalimat “Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl,” tetapi pada penguasaan emosi dan penguatan mental serta mengembalikan persoalan berat kepada Allah ketika menerima sebuah kenyataan meski pahit sekalipun.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ فَقَالَ الْمَقْضِىُّ عَلَيْهِ لَمَّا أَدْبَرَ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ يَلُومُ عَلَى الْعَجْزِ وَلَكِنْ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ فَإِذَا غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya, “Dari Auf bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW memutuskan perkara di antara dua orang. Orang yang berperkara ketika berpaling mengucap, ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.’ Rasulullah kemudian bersabda, ‘Allah mencela kelemahan. Sebaliknya, kau harus kuat. Jika kau dirundung oleh suatu masalah, hendaknya mengucap, ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl,’” (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi).

Seburuk-buruknya keadaan yang sedang dialami seorang hamba, ia hendaknya mengembalikan segala urusan yang menimpanya kepada Allah yang Maha Kuasa.

Sebab kenyataan yang tidak sesuai harapan belum tentu sebuah keburukan, bisa jadi kenyataan yang sedang dihadapi menjadi titik baru untuk membuka pintu kebaikan lainnya. (*)

Baca juga: 

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur : Ulfa PS

Komentar

Berita Terkait