Mitrapost.com – Sebagai manusia yang tidak sempurna, ada kalanya kita melakukan sebuah kesalahan yang menyinggung orang lain. Saat kita menyadarinya, akan lebih baik kita segera meminta maaf kepada orang yang tersinggung hatinya, kemudian meminta ampunan kepada Allah SWT. Namun, bagaimana jika kesalahan tersebut tidak dimaafkan karena kesalahan besar kita kepadanya?
Pada dasarnya, maaf berasal dari kata al-afwu yang berarti menghapus. Permintaan maaf merupakan cara kita menghapus kesalahan kita kepada orang yang bersangkutan. Ini akan membutuhkan ketulusan dan keikhlasan. Keikhlasan tersebut berasal dari penyerahan diri atas keputusan orang yang kita sakiti untuk menerima permintaan maaf atau tidak, karena semua itu telah menjadi hak mereka. Oleh karena itu, pilih perkataan yang rendah hati agar orang tersebut menerima niat anda.
Begitu pun sebaliknya. Saat orang tersebut masih merasa sakit hati dan belum bisa menerima permintaan maaf, maka doakan datangnya kebaikan pada mereka. Sesungguhnya meminta maaf dan memaafkan bukanlah hal yang mudah. Kendati demikian, Allah SWT tetaplah Maha Pemaaf.
Dilansir dari NU Online, Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul ‘Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat’ mengungkap doa Nabi Muhammad jika memiliki kesalahan yang tidak dimaafkan.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dosa kepada-Mu dan dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu. Aku bermohon Ya Allah, agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan kepada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu.”
Doa tersebut mengharapkan ampunan dari Allah SWT atas kesalahan yang telah dilakukan kepada hamba lainnya. Apabila terdapat kesalahan yang belum dimaafkan, maka kita dapat memohon agar Allah SWT mengambil alih permintaan maaf tersebut, dengan mendoakan orang bersangkutan untuk diberikan imbalan kebaikan dan pengampunan dosa. (*)




