Mitrapost.com – Badan Pangan Nasional Republik Indonesia (Bapanas RI) menyampaikan bahwa pasokan pangan RI telah mencukupi. Dalam hal ini, mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat telah berhasil ditopang dari produksi lokal.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang disusun oleh Bapanas RI bersama Kementerian/Lembaga (K/L) terkait, terdapat sebanyak tujuh dari 10 jenis pangan pokok strategis yang tidak lagi membutuhkan importasi.
Di antara tujuh komoditas pangan yang tercatat tidak lagi membutuhkan importasi untuk kebutuhan konsumsi tersebut, meliputi beras, jagung, bawang merah, cabai, gula, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Sementara, hanya tiga komoditas saja yang tercatat masih butuh impor.
“Kita hanya mengimpor dua atau tiga yang dominan. Kedelai dan bawang putih. Lalu daging sapi tapi tidak dominan,” jelas Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa dalam keterangannya, dikutip dari Detik Finance, Senin (13/04/2026).
Adapun, angka carry over stock atau sisa persediaan barang dari periode sebelumnya untuk komoditas beras hingga akhir 2026 tercatat berasal dari carry over stock di awal 2026 yang masih berada dalam nominal 12,4 ton.
Selain itu, angka tersebut ditambah pula dengan proyeksi produksi beras setahun sebesar 34,7 juta ton yang dikurangi oleh kebutuhan konsumsi setahun yaitu 31,1 juta ton. Sehingga, stok beras nasional di akhir 2026 dapat diestimasikan masih mencapai hingga 16 juta ton.
Kondisi yang sama juga terjadi pada komoditas jagung pakan yang juga telah dinyatakan dengan swasembada, lantaran RI yang memberhentikan kegiatan impor sejak 2025. Begitu pula pada komoditas pangan pokok lain seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah.
“Kemudian kita juga punya cadangan jagung yang bagus. Jagung pakan kita sudah swasembada. Kemudian daging ayam kita kuat. Telur kita kuat. Cabai kita kuat. Bawang merah kita kuat,” katanya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






