Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,86% atau turun 55,71 poin ke level 6.394,13 pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, seiring lesunya bursa kawasan Asia serta penantian keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Untuk Jumat, 21 Agustus 2026, peluang diprediksikan netral–positif dengan pergerakan technical rebound. Dalam hal ini, strategi yang lebih rasional adalah buy on weakness pada saham likuid daripada mengejar saham yang sudah melonjak.
BBRI — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Pada awal Agustus, BBRI termasuk saham yang diborong asing dengan prediksi valuasi bank besar yang relatif menarik secara historis, sementara kinerja semester I 2026 tetap menjadi penopang fundamental, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp3.080.
Jika IHSG mampu mempertahankan minimal 6.370 dan BBRI kembali mendapatkan volume beli, maka peluang menuju bagian atas range menjadi lebih masuk akal dengan kisaran Rp3.130 – Rp3.190.
BBCA — PT Bank Central Asia Tbk
Saham ini memiliki bobot besar terhadap IHSG sehingga ketika terjadi pemulihan pada saham-saham kapitalisasi besar, BBCA berpotensi ikut menjadi penggerak indeks.
Sebelumnya, saham BBCA dengan kualitas defensif relatif lebih tinggi tercatat mendapat pembelian asing pada periode ketika IHSG menguat, sementara valuasi bank besar dinilai sudah relatif menarik, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp6.300.
Saham ini memiliki bobot besar terhadap IHSG sehingga ketika terjadi pemulihan pada saham-saham kapitalisasi besar, BBCA berpotensi ikut menjadi penggerak indeks dengan kisaran Rp6.400 — Rp6.500.
BMRI — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Diketahui, saham BMRI menarik untuk skenario technical rebound karena koreksi sebelumnya membuat valuasinya relatif lebih menarik, sementara fundamental semester I 2026 tetap kuat, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp4.140.
Laba bersih BMRI semester I 2026 dilaporkan tumbuh 24,4% menjadi Rp30,4 triliun, sehingga koreksi harga lebih tepat dibaca sebagai peluang rebound apabila tekanan pasar mereda, dengan kisaran Rp4.150 – Rp4.250.
ANTM — PT Aneka Tambang Tbk
Pergerakan emas masih menjadi katalis yang relevan bagi emiten pertambangan emas, dan ANTM termasuk saham yang mendapat perhatian investor asing pada periode tekanan pasar sebelumnya, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp3.030.
Perlu diperhatikan, ANTM menjadi pilihan tematik untuk menyeimbangkan tiga saham bank di atas. Maka di tengah ketidakpastian geopolitik, aset emas cenderung tetap menjadi salah satu tema yang diperhatikan pasar, dengan kisaran Rp3.150 — Rp3.250.
BRPT — PT Barito Pacific Tbk
Sebelumnya, saham ini menunjukkan dukungan dari investor asing; pada periode 20–24 Juli, BRPT justru mencatat net buy asing sekitar Rp209,33 miliar ketika harga berada di Rp1.745.
Selain itu, BRPT termasuk kelompok saham energi yang cukup aktif diperhatikan pasar, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp1.855.
Dalam hal ini, BRPT berpotensi sebagai pilihan opportunistic karena karakter pergerakannya lebih agresif dibanding bank besar, dengan kisaran Rp1.865 – Rp1.920. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com






