Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 11 September 2026, ditutup melemah di 6.541,38, turun 47,96 poin atau 0,73%, dengan tekanan yang cukup luas karena 10 dari 11 sektor IDX-IC melemah; seperti barang konsumen primer, energi, dan infrastruktur yang menjadi penekan utama.
Untuk Senin, 14 September 2026, IHSG diperkirakan adanya peluang technical rebound selektif, tetapi belum cukup kuat untuk menganggap pasar sudah sepenuhnya kembali bullish; area sekitar 6.500–6.525 menjadi zona penting untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda.
BBCA — PT Bank Central Asia Tbk
Diketahui, saham BBCA menarik sebagai anchor karena koreksi Jumat justru membawa harga turun, sehingga tekanan harga sudah cukup nyata dan membuka ruang rebound, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp6.325.
Dalam hal ini, fundamental BBCA yang relatif kuat dengan laba TTM sekitar Rp58,1 triliun dan valuasi forward P/E sekitar 12,4 kali diprediksi adanya kenaikan dengan kisaran Rp6.400–6.500.
BMRI — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Diketahui, saham BMRI menjadi pilihan bank kedua karena karakter pergerakannya cukup likuid sekaligus memiliki fundamental yang mendukung ketika tekanan pasar mulai mereda, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp4.360.
Dalam hal ini, pasar saham untuk BMRI esok hari berpotensi mendapat perhatian investor yang mengejar dividen, meski faktor tersebut tetap harus diseimbangkan dengan risiko koreksi pasar dengan kisaran Rp4.400–4.480.
ANTM — PT Aneka Tambang Tbk
Diketahui, saham ANTM menjadi pilihan tematik karena mempunyai kombinasi eksposur emas + nikel yang tetap relevan ketika pasar mencari saham komoditas di tengah ketidakpastian makro, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp3.270.
Dari sisi bisnis, Antam menyiapkan capex sekitar Rp6 triliun pada 2026 untuk pengembangan emas dan nikel, sementara kinerja emas masih menjadi salah satu penopang utama pendapatan perusahaan. Dengan momentum tersebut, kenaikan diprediksi pada kisaran Rp3.330–3.420.
ANTM — PT Aneka Tambang Tbk
Diketahui, saham TLKM dipilih sebagai komponen yang lebih defensif dibanding saham komoditas karena bisnis utamanya memiliki arus pendapatan yang relatif lebih berulang, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp2.600.
Setelah dua hari berturut-turut terkoreksi dari Rp2.660 menjadi Rp2.600, tekanan jangka pendek sudah cukup terlihat sehingga jika IHSG melakukan rebound, TLKM berpeluang mengikuti melalui pemulihan bertahap dengan kisaran Rp2.640–2.700.
BRMS — PT Bumi Resources Minerals Tbk
Diketahui, saham DSSA menjadi pilihan dengan potensi pergerakan terbesar sekaligus risiko tertinggi dari lima saham ini, karena masih memiliki likuiditas dan volatilitas yang cukup untuk menghasilkan pergerakan harian yang signifikan, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp1.100.
Karena faktor katalis sekaligus volatilitasnya tinggi, maka saham DSSA cocok dipertimbangkan hanya jika volume dan harga menunjukkan akumulasi, dengan prediksi kenaikan yang berada dalam kisaran Rp1.120–1.160. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com




