
Pati, Mitrapost.com – Kebanyakan pemuda Kabupaten Pati memilih bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan maupun jadi abdi negara. Mereka merasa nyaman dengan jaminan mendapatkan gaji setiap bulan.
Namun, zona nyaman ini tidak diambil Dyah Puji Astuti (23). Gadis manis kelahiran 1 Desember ini memilih bertanam sebagai pekerjaannya, sebagai jalan berjuangnya.
Dyah, sapaan akrabnya, sudah cinta dengan tanaman sejak kecil, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu, ibunya sering mengajaknya ke ladang, dari hanya sekedar menemani hingga membantu menanam.
Kegiatan itu terus dilakukannya hingga ia mencintai tanaman dan kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Institut Pertanian Bogor di tahun 2014. Anak bungsu ini mengambil jurusan Proteksi Tanaman dan lulus pada tahun 2019.
Selapas kuliah, Ia memang seperti kebanyakan orang lainnya, bekerja di suatu perusahaan atau lembaga. “Sempet kerja 2 bulan di LSM di Bogor yang bergerak di bidang perhutanan,” ungkap alumnus SMA N 1 Tayu ini.
Bekerja di lembaga yang sempat bekerjasama dengan berbagai kementerian di Indonesia ini membuat Dyah dapat mengumpulkan pundi-pundi uang yang lumayan banyak. “Lumayan lah, bisa buat hedon, wkwk,” Dyah mengaku sambil terkekah.
Baca juga : Gambar Mengimajinasi Mimpi Angghi Jadi Desainer
Namun, pundi-pundi uang itu tidak membuatnya nyaman. Dyah merasa ini tidaklah hal yang diinginkannya. Hingga ia memutuskan berhenti dan pulang ke Kabupaten Pati, kota kelahirannya.
“Sudah muak dengan macet dan birokrasi. Perusahaan identik dengan kota dan kota identik dengan macet, bising, modernitas tapi hampa,” tuturnya.
“Akhirnya pulang, ada saudara yang dia juga resign dari kerjaan di kota. Punya cita-cita bangun bisnis garis sosial di petani, sebagai penghubung antara petani dan pabrik,” katanya.
Saat ini, ia tengah membangun cita-citanya. Sambil menanam dan mengolah tanaman agar mempunyai hasil yang lebih.
Menurutnya, saat ini, petani tidak dapat ‘memanen’ atau mendapatkan hasil yang lebih dari tanamannya. Maka dari itu, ia juga mempunyai misi untuk memutus rantai kartel yang menjerat petani.
“Salah satunya menjadikan hasil tanaman menjadi barang jadi, minimal barang setengah jadi,” tandasnya.
Ia mencoba mengolah hasil yang ditanamnya dengan berbagai olahan minuman. Mulai dari kopi hingga minuman herbal.
Good luck, Dyah…!!! (*)
Baca juga : Amanda Margareth Mengaku Lancar Menulis saat Patah Hati
Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, instagram, dan twitter
Redaktur : Dwifa Okta
Wartawan






