Mengapa Perkebunan Kelapa Sawit Berkaitan Erat dengan Kerusakan Lingkungan?

Mitrapost.com – Dalam dua minggu terakhir, Indonesia dipenuhi oleh adanya isu lingkungan yang kompleks dan kontroversial, menyangkut dengan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi, di antaranya Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar) dan Aceh.

Seorang Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, menyayangkan terjadinya deforestasi masif yang telah berlangsung di banyak kawasan hulu Pulau Sumatera.

Sebuah data kompilasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan bahwa provinsi ini telah kehilangan lebih dari 700.000 hektare hutan dalam kurun 1990–2020. Kondisi yang sama tampak di Sumut, di mana tutupan hutan tinggal sekitar 29% luas daratan sekitar 2,1 juta hektare.

Sementara, laju deforestasi di Sumbar termasuk sebagai yang tertinggi, di mana dalam kurun waktu 2001–2024 provinsi ini telah kehilangan sekitar 740 ribu hektare tutupan pohon, baik dalam hutan primer maupun sekunder.

Kondisi ini diartikan, bahwa laju kehilangan hutan yang terjadi secara signifikan tersebut mampu menghilangkan sebagian besar fungsi ekologisnya sebagai pengendali hujan, hingga meningkatkan kerentanan terhadap banjir bandang dan tanah longsor.

Melansir dari Kompas, salah satu komoditas nabati yang berkaitan erat dengan masifnya deforestasi tropis, adalah tindak ekspansi dari perkebunan kelapa sawit yang kini menjadi pendorong utama kerusakan lingkungan di Asia Tenggara.

Dikarenakan lokasi pertumbuhan yang paling optimal berada dalam wilayah khatulistiwa, maka pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit sering dilakukan dengan pembukaan hutan alami yang mengakibatkan terjadinya deforestasi dalam skala luas.

Seorang profesor dari York University, Jane Hill menjelaskan bahwa industri kelapa sawit sering berkembang menggantikan kawasan hutan yang telah rusak akibat penebangan yang tidak berkelanjutan. Sementara, penebangan yang tidak berkelanjutan membuat hutan tidak layak untuk produksi kayu.

Selain perusakan hutan, ekspansi kelapa sawit ini juga mengeringkan wilayah rawa gambut yang selama ini menjadi tempat penyimpanan karbon dalam jumlah besar. Hal ini mampu melepaskan karbon ke atmosfer sebagai karbon dioksida, yang secara langsung dapat memperburuk perubahan iklim.

Kemudian, konversi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit juga menyebabkan penurunan secara drastis keanekaragaman hayati, di mana kekayaan serangga turun sebanyak 40 persen dan spesies vertebrata juga menunjukkan hingga kurang dari seperempat yang dapat bertahan hidup. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati