Mitrapost.com – Meski pertumbuhan ekonomi Republik Indonesia (RI) masih berada di bawah Vietnam dan Malaysia dengan capaian hanya 5,11% pada 2025, namun Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai jika RI menjadi negara dengan defisit terendah di tahun yang sama.
Atas fakta yang disebutkan, Purbaya mengatakan bahwa hal tersebut dijadikan sebagai bukti bahwa Pemerintah RI telah berhasil menjaga rasio defisit fiskal dan rasio utang.
“Indonesia menjadi negara pertumbuhan tertinggi dan defisit paling rendah di 2025. Capaian ini semakin bermakna karena berhasil menjaga rasio defisit dan rasio utang yang jauh lebih aman dan terkendali dibanding negara peers (setara) kita,” jelas Purbaya dalam konferensi pers Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Kita, dikutip dari Detik Finance, Rabu (25/02/2026).
Purbaya tetap mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi RI masih berada di bawah Vietnam dengan capaian 8,02% dan Malaysia sebesar 5,17% pada 2025. Namun menurutnya, ada harga yang harus dibayar baik Vietnam maupun Malaysia untuk mengejar pertumbuhan, salah satunya dengan defisit anggaran yang cukup besar.
“Kalau kita lihat defisitnya berapa? Kita 2,9% dari PDB (Produk Domestik Bruto), Vietnam 3,6%, Malaysia 6,41%. Jadi, dia bayar pertumbuhan dengan ongkos yang besar sekali dibanding kita,” ucapnya.
Dalam pernyataannya, Purbaya menyoroti adanya prinsip kehati-hatian fiskal yang dipegang teguh oleh RI. Karena jika dibandingkan dengan standar nasional maupun global, Vietnam dan Mayalsia terlihat abai atas rambu-rambu defisit yang berada di atas 3%.
“Jadi kita bisa menciptakan pertumbuhan dengan memastikan prinsip kehati-hatian lebih terjaga. Jadi, lebih jago dari negara-negara itu. Waktu ekonomi turun kita kasih stimulus, tapi kehati-hatian fiskal tidak kita tinggalkan,” ucapnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






