oleh

Tanggapan Orang Tua Mengenai KBM Online

anda ingin cepat kaya kerja sambil jalan - jalan di luar negeri? dan dapatkan gaji jutaan rupiah!! hubungi 0821-3869-9954

Rembang, Mitrapost.com – ditetapkannya sebagai zona merah akibat Covid-19, memaksa beberapa kegiatan belajar mengajar di Rembang harus dilakukan secara daring. Namun dari pihak orang tua merasa kegiatan tersebut masih memiliki banyak kendala.

Qom, seorang ibu rumah tangga sekaligus perangkat desa. Ia mengeluh kesulitan dalam membagi waktu dengan putrinya yang masih duduk di sekolah dasar.

“Kurang setuju. Secara pribadi model sekolah yang hanya dikasih kerjaan lewat Whatsapp terus disuruh ngumpulin. Tidak menjamin anak mengerjakan sendiri. Dan untuk perkembangan anak saya rasa gak banget. Apalagi saya termasuk kehabisan waktu gak bisa maksimal untuk mendampingi anak belajar,” tutur pada tim Mitrapost.com pada Rabu (29/7/2020).

Selain itu Ia juga mengeluhkan tidak adanya latarbelakang pendidik yang memadai dalam mendidik anaknya. “Masalahnya yang saya rasakan selama pandemi bukan sekolah online melainkan home schoolling. Tapi bedannya gurune ibuknya sendiri.Dan ibunya sendiri gak punya basic pendidikan guru,” jelasnya.

Baca Juga :   Siswa Tidak Mampu, Mendapatkan Fasilitas dari Sekolah Selama KBM Online

Penuturan senada juga diungkapkan oleh ibu rumah tangga lain seperti Oka yang tidak setuju dengan pendidikan secara online. Ia merasa bahwa KBM daring masih banyak masalah teknis. Mulai dari kepemilikan ponsel hingga sistem pembelajaran bagi tataran TK yang membebankan orang harus interaktif.

“Untuk anak TK/SD kurang memahami sistem pembelajaran secara online, jadi di sini orang tua harus berperan aktif. Sedangkan tidak semua orang tua faham dengan kurikulum pembelajaran yang ada,” imbuhnya.

Belum lagi jumlah kuota yang harus digunakan untuk akses media tertentu.  Yakni sebagau menyiasati interaksi seperti akses video interaktif dan mempunyai pembelajaran anak.

Baca juga : Hindari Penyebaran Covid, Tahanan Lapas Lakukan Sidang Online

Menurut oka pembelajaran tetap harus dijalankan secara tatap muka dengan catatan menerapkan protokol kesehatan.

“Untuk daerah zona merah bisa menerapkan protokol kesehatan mas, pakai masker atau pelindung wajah, cuci tangan pakai sabun, sekolah bisa sistem shift supaya tidak terjadi kerumunan misal 1 kelas yang biasanya sampai 40 siswa, cukup diisi dengan 20 siswa,” ungkap Oka.

Baca Juga :   Pati Zona Merah, Nasib KBM Tatap Muka Tak Jelas

Agus merasakan hal serupa. Ia mengeluh pemakaian kuota untuk pembelajaran daring terbilang cukup banyak.

“Kalau masalah kuota, memang terkendala sinyal, dan untuk anak saya kadang 11 GB gak cukup dalam 1 bulan. Yang jelas memang kondisi sulit seperti sekarang perlu irit.”

Meskipun begitu Ia mengaku tetap mengikuti aturan pemerintahan tentang belajar online. “Tapi alangkah baiknya bila belajar di sekolah, jadi anak saya atau murid-murid yang lain bisa lebih disiplin.”

Masalah seperti  kepemilikan hp, letak geografis yang membuat sinyal serta banyaknya uang untuk kuota juga diungkapkan oleh Puji dan Sardani.

Hal berbeda diungkapkan oleh Andi. Menurutnya pendidikan secara daring akan membantu anak untuk mandiri dalam mencari informasi.

Baca Juga :   Perpustakaan Umum Rembang Fokus pada Pelayanan Digital

“Terkait sekolah online untuk saat ini saya setuju, karena Covid-19. Kemudian sekolah online juga memberikan tugas ke siswa supaya tetap belajar di rumah dan tetap saya rasa mereka akan lebih rajin membaca, mencari informasi di media apapun untuk menyelesaikan tugas secara online. Dan diharapkan para guru terus berkomunikasi dengan siswa.” tuturnya.  (*)

Baca juga : 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, instagram, dan twitter

Redaktur : Dwifa Okta

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Googlenews. silahkan Klik Tautan https://bit.ly/googlenewsmitrapost dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Video Viral