Jakarta, Mitrapost.com – Epidemiolog mulai angkat bicara menyoal adanya praktik joki vaksin yang marak terjadi di Indonesia. Perlu adanya tanggapan dari epidemiolog terkait fenomena tersebut, pasalnya hadirnya joki vaksin menimbulkan kekhawatiran bagi publik.
Adanya praktik joki vaksin dikhawatirkan menimbulkan efek samping yang membahayakan bagi tubuh.
Seorang epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan berdasar kompetensinya. Menurutnya, praktik joki vaksin tak sepenuhnya berbahaya bagi orang yang melakukannya, sebab sejauh ini belum ada riset mendalam terkait hal itu.
“Yang jelas, dampak atau bahaya (menerima vaksin Covid-19 dalam dosis berlebih) sejauh ini tidak ada,” ujar Dicky, Jumat (7/1/2022).
Namun, fenomena joki vaksin yang belum menunjukkan dampak atau bahayanya itu justru dapat menjadi bantahan untuk argumen orang-orang yang anti-vaksin.
Sementara itu, jika dilihat dari kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) Covid-19, dampak yang ditimbulkan dari pemberian vaksin secara berlebihan tidak menimbulkan bahaya.
“Sebetulnya joki vaksin jadi saksi hidup bahwa vaksin tidak berbahaya. Dia juga jadi saksi bahwa vaksin tidak menyebabkan kematian atau kelumpuhan atau (efek) parah lainnya,” ungkapnya.
Dicky pun tidak mampu memastikan adanya manfaat bagi para pelaku joki vaksin.
“Sebenarnya juga tidak ada manfaat yang berlebih juga. Jadi, tidak membuat dia (joki vaksin) menjadi super kuat. Tidak ada data yang bisa membuktikan itu,” imbuhnya.
Bukannya bermanfaat, praktik seperti itu malah memposisikan orang lain dalam posisi berbahaya karena tak dapat menerima vaksin Covid-19.
“Tidak memiliki imunitas dalam situasi saat ini (merupakan pertanda) buruk, karena dia bisa menjadi inang, sarang virus untuk bereplikasi hingga menghasilkan satu varian baru yang lebih mengerikan,” ujar Dicky.
Selain itu, karena belum ada studi yang menyoal fenomena joki vaksin, mungkin dampaknya bakal muncul dalam jangka panjang nanti.
“Kalau sesuatu yang tidak kita ketahui, ya rugi sendiri nanti ketika ternyata interaksi yang kondisi tubuhnya seperti apa kita enggak tahu,” tutur Dicky.
“Artinya, dia menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya jangka panjang yang kita belum tahu apa (dampaknya),” imbuhnya.
Sehingga, praktik joki vaksin yang ramai terjadi, pemerintah mesti menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran untuk lebih memperbaiki sistem vaksinasi.
“Pandemi ini ujian, dan menguji kita semua. Salah satunya joki (vaksin) ini, menunjukkan bahwa ini menjadi pekerjaan rumah kita,” pungkasnya. (*)
Artikel ini telah tayang di kompas.tv dengan judul “Viral Praktik Joki Vaksin, Bahaya atau Tidak? Ini Penjelasan Epidemiolog.”
Redaksi Mitrapost.com






