Pati, Mitrapost.com – Para Petani di Kabupaten Pati saat musim panen selalu dihadapkan dengan fenomena anjloknya harga komoditas. Sejumlah pihak menilai, adanya permainan dagang atau mafia yang mengendalikan harga saat masa panen.
Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, Narso mengatakan peristiwa sosial tersebut, seakan sudah menjadi klise di Bumi Mina Tani. Namun ia menilai, gejala tersebut bisa dijelaskan.
Anjloknya harga panen saat panen raya, lebih disebabkan oleh pengelolaan distribusi penjualan komoditas pertanian yang tidak tepat.
Anggota dewan dan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu memaparkan, rantai distribusi penjualan produk pertanian Kabupaten Pati terlalu panjang.
Padi yang sudah dipanen tidak langsung dibeli konsumen, melainkan melalui perantara atau pengepul terlebih dahulu. dari pengepul masuk ke pasar besar, dari pasar dijual ke pengecer, dari pengecer baru ke konsumen.
Masing-masing rantai penjualan menginginkan keuntungan yang besar, oleh karenanya produsen dalam hal ini petani adalah pihak yang tidak diuntungkan, karena menerima keuntungan yang paling kecil, padahal mengeluarkan tenaga paling besar.
“Jadi keuntungan habis di jalur perdagangan. Kalau jalur biasa dari petani ke tengkulak, dari tengkulak ke pedagang besar, ke pasar, pengecer ke konsumen,” ujarnya kepada Mitrapost.com dalam sebuah wawancara.
Lebih lanjut, Narso menginginkan petani bisa memangkas jalur perdagangan tersebut, “sehingga petani masih bisa menikmati harga yang bagus saat ini,” imbuhnya.
Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk memotong rantai distribusi saat ini adalah dengan pemasaran digital. Petani bisa memperjualkan barangnya melalui marketplace yang tersedia di Facebook, dengan aplikasi Sayurbox atau dengan aplikasi Whatsapp yang paling sederhana.
Namun untuk merealisasikan hal tersebut ada syaratnya yang harus dipenuhi, petani harus mawas internet. Disinilah dibutuhkan peran pemerintah untuk memberikan pelatihan kepada petani tentang pemasaran digital. (adv)
Wartawan Area Kabupaten Pati





