oleh

Swab di Pati Masih Minim, Faktor Dana?

Pati, Mitrapost.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati menyoroti masih sedikitnya angka tes usap atau swab yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTTP) Covid-19 Kabupaten Pati.

Dari bulan Maret hingga bulan Agustus GTTP Covid-19 Kabupaten Pati baru melakukan tes usap sebanyak 3.595 warga. Dilihat dari rentang waktu dan jumlah tes, apa yang dilakukan GTTP Covid-19 masih jauh dari standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

WHO menetapkan standar minimal 1 tes swab per seribu penduduk setiap pekannya. Dari data 2018 jumlah penduduk Kabupaten Pati sekitar 1,2 juta orang. Apabila standar WHO ini terlaksana, seharusnya GTTP Covid-19 melakukan tes usap minimal 1.200 setiap pekan atau 4.800 setiap bulannya.

Beberapa kalangan menilai hal ini tidak dilakukan GTTP Covid-19 Kabupaten Pati karena ada beberapa faktor. Salah satunya faktor dana.

Baca juga : WHO Peringatkan Pandemi Baru, Bagaimana Saran Ahli?

Namun, DPRD Kabupaten Pati menilai hal itu bukanlah alasan. Mengingat dana penangan Covid-19 Kabupaten Pati cukup tinggi, yakni 142 miliar.

“Kalau memang kendalanya masalah dana, Pemkab Pati sebetulnya refocusing kemarin kan sudah menganggarkan untuk kondisi tanggap darurat Covid-19 dan (anggaran) itu bisa dilakukan untuk testing,” ujar anggota DPRD Kabupaten Pati Narso kapada Mitrapost.com, Jumat (11/9/2020).

Selain faktor dana, faktor kekurangan pengetahuan masyarakat juga mempengaruhi sedikitnya swab di Pati. Rapid test saja yang tingkat keakuratannya masih di bawah tes swab masih dijauhi masyarakat. Saat adanya rapid test massal di beberapa tempat, GTTP tak mencapai target, hal ini dikarenakan masyarakat enggan dan takut dengan uji tes Covid-19.

“Kalau masyarakat takut di-swab, memang kita harus melakukan edukasi, dengan swab kita akan tahu siapa positif, siapa yang negatif, itu kita bisa melakukan pencegahan lebih dini dan ujungnya ke ekonomi,” tutur Narso.

“Ekonomi bisa gerak kalau kondisi Pati sudah tidak merah atau kembali ke hijau, ekonomi bisa bergerak. Seperti sekolah tatap muka bisa dilaksankan, pasar bisa bertransaksi,” tandasnya. (Adv/UH/DF/SHT)

Baca juga :

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebookinstagram, dan twitter

Redaktur : Dwifa Okta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed